JAKARTA –
**Borneonews - Natuna**, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menginformasikan bahwa Embung Serbaguna Pulau Laut yang terletak di Kabupaten Natuna telah mulai beroperasi untuk memenuhi kebutuhan air baku bagi masyarakat setempat. Keberadaan embung ini sangat signifikan, tidak hanya untuk warga yang membutuhkan air untuk keperluan rumah tangga, tetapi juga untuk nelayan serta kapal-kapal yang melintasi daerah tersebut. Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV, Daniel, mengungkapkan bahwa embung ini merupakan bagian dari upaya Ditjen Sumber Daya Air untuk menyediakan penampungan air hujan. Embung Serbaguna Pulau Laut sendiri adalah salah satu dari 22 embung yang dibangun di kawasan Kepulauan Riau. Dalam penjelasannya, Daniel menyatakan bahwa BWS Sumatera IV saat ini mengelola delapan embung di Kabupaten Natuna, di mana tiga di antaranya memiliki kapasitas yang cukup besar. Namun, pemanfaatan embung-embung tersebut masih belum optimal. Secara keseluruhan, embung yang ada di Natuna dapat menampung air dengan kapasitas 115 liter per detik. Jika seluruh kapasitas dimanfaatkan, kebutuhan air pada tahun 2024 yang diperkirakan mencapai 142 liter per detik bisa terpenuhi hingga hampir 81 persen. Lebih lanjut, Daniel menekankan pentingnya fungsi embung bagi masyarakat Natuna, terutama untuk Embung Serbaguna Pulau Laut yang juga mendukung pasokan air untuk nelayan dan kegiatan lainnya. Selain itu, ada juga Embung Serasan yang dibangun khusus untuk memenuhi kebutuhan air bagi warga yang terkena dampak bencana longsor pada tahun 2023. BWS Sumatera IV bertanggung jawab untuk mengelola 117 daerah aliran sungai (DAS) di lima kabupaten dan dua kota dengan total luas wilayah sekitar 451 km². Dari luas tersebut, hanya sekitar 1,9 persen yang merupakan daratan, sementara sisanya adalah wilayah perairan. Di wilayah ini terdapat sekitar 2.408 pulau, namun hampir 2.000 di antaranya tidak berpenghuni. Daniel menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama adalah kurangnya sumber air baku yang memadai, terutama karena DAS yang ada tergolong pendek dan tidak memiliki sungai besar. Oleh karena itu, penduduk setempat sangat bergantung pada air hujan. Untuk meningkatkan pasokan air baku di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun, BWS Sumatera IV telah merencanakan pembangunan *estuari dam* di Tanjung Pinang dan Teluk Bintan dengan target memenuhi sekitar 80 persen kebutuhan air di wilayah tersebut. Pembangunan infrastruktur ini diharapkan dapat memberikan solusi terhadap kelangkaan air baku yang sering terjadi. Matrani, seorang tokoh agama setempat, menyatakan bahwa air dari embung dimanfaatkan untuk kegiatan ibadah di beberapa masjid dan surau. Dia menambahkan bahwa selama enam bulan musim kemarau 2024 lalu, embung tersebut tidak pernah kering, yang sangat membantu masyarakat setempat. Masyarakat juga menggunakan air dari Embung Serbaguna Pulau Laut untuk melaksanakan tradisi selamatan pada tanggal 7-9 Safar sebagai bentuk pengharapan untuk terhindar dari malapetaka. Surya Arma, seorang tokoh adat, menyatakan bahwa keberadaan embung ini sangat mempermudah akses air bagi warga, terutama dibandingkan dengan kondisi sebelumnya yang mengharuskan mereka menempuh jarak 500 meter untuk mendapatkan air dari sumur. Embung Serbaguna Pulau Laut dibangun pada tahun 2017 di atas lahan seluas 8 hektare dan saat ini dapat menghasilkan debit air sebesar 5 liter per detik. Ini cukup untuk memenuhi kebutuhan dua desa, yaitu Desa Kadur dan Desa Air Payang. Zaharuddin, Direktur Perumda Air Minum Tirta Nusa Natuna, melaporkan bahwa sebelum adanya embung, kondisi pasokan air di Natuna sangat memprihatinkan, terutama saat musim kemarau. Masyarakat sangat berterima kasih atas keberhasilan pemerintah dalam membangun embung ini. Camat Pulau Laut, Bambang Erawan, menjelaskan bahwa air dari embung bukan hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga untuk kantor-kantor seperti puskesmas dan pos keamanan setempat. Kini, warga bisa dengan mudah mengakses air yang segera dialirkan ke rumah-rumah tanpa perlu instalasi pompa listrik, cukup dengan membayar sesuai penggunaan. Keberadaan embung juga berpotensi menarik wisatawan, serta mendukung kebutuhan air bagi banyak kapal yang melintasi perairan Pulau Laut. Setidaknya 300 hingga 400 kapal membutuhkan pasokan air setiap tahun, yang dapat menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) bagi PDAM. Untuk itu, pemerintah lokal berusaha meningkatkan kapasitas penyulingan air dan memperluas jaringan pipa hingga ke pelabuhan. Bambang menjelaskan bahwa diperlukan pasokan air tercepat sekitar 10-15 liter per detik untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut. Terkait dengan pengembangan lebih lanjut, Kecamatan Pulau Laut bahkan telah menghibahkan 55 hektare lahan untuk perluasan embung di masa depan. ANTARA