**Borneonews - Jakarta**, Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengonfirmasi bahwa hingga saat ini dirinya belum menerima instruksi dari Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto mengenai penambahan jumlah personel TNI di dalam Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon, yang dikenal sebagai *United Nations Interim Force in Lebanon* (UNIFIL).
Dalam keterangannya di Jakarta, Maruli menyatakan, tindakan untuk mengelola pasukan adalah wewenang Panglima TNI, sementara dirinya bersiap jika suatu saat diperlukan penambahan pasukan. "Jika memang ada kebutuhan untuk mengirim lebih banyak personel ke sana, kami pasti akan menyiapkan diri," ungkap Jenderal Maruli pada Minggu.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa saat ini TNI tidak mempunyai rencana concrete untuk meningkatkan jumlah personel demi memperkuat kekuatan pasukan perdamaian di Lebanon. Fokus TNI saat ini, menurutnya, lebih kepada mencari cara lain untuk memberikan bantuan.
"Hal-hal terkait ini tentu akan dibahas di tingkat Markas Besar TNI," tambahnya. Dia juga menyoroti insiden penembakan yang melibatkan militer Israel (IDF) yang menyebabkan cedera pada dua anggota TNI, yang juga akan menjadi topik diskusi di tingkat komando.
Maruli menegaskan bahwa setiap kejadian yang melukai pasukan yang bertugas di luar negeri pasti akan segera dievaluasi. "Kami berharap agar situasi tetap aman, sehingga TNI dapat menjalankan tugasnya seperti biasa. Tentu saja, insiden cedera personel yang baru lalu menjadi bahan evaluasi bagi kami, dan langkah-langkah pencegahan akan dipikirkan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang," ujarnya.
Dia menambahkan bahwa saat ini TNI masih dalam posisi melakukan pemantauan terhadap perkembangan situasi terbaru di Lebanon. Adanya keterlibatan Indonesia dalam pasukan multinasional di area tersebut membatasi tindakan intervensi yang bisa dilakukan.
Dalam sebuah pernyataan terpisah, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Hariyanto mengungkapkan bahwa ada prajurit TNI yang menjadi korban dalam insiden penembakan yang dilakukan oleh IDF di Lebanon. Dia menjelaskan, prajurit yang terkena serangan mengalami luka ringan di kaki namun dalam kondisi yang baik.
Menurut penjelasannya, insiden terjadi pada tanggal 10 Oktober 2024 sekitar pukul 05.05 waktu setempat. "Di tempat pengamatan (OP 14) Naqoura terjadi baku tembak antara IDF dan Hizbullah, disertai dengan bunyi ledakan dari kedua pihak," jelasnya.
Hariyanto melanjutkan dengan menuturkan bahwa baku tembak berlanjut dan tank Merkava dari IDF terlihat di sekitar Green Hill. Ia menuturkan bahwa peluru nyasar mengenai menara pengamatan yang diduduki oleh personel yang melakukan pemantauan situasi.
Dijelaskan pula bahwa prajurit tersebut mengalami cedera akibat peluru nyasar dari baku tembak antara IDF dan Hizbullah. Setelah insiden tersebut, UNIFIL mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut tank Merkava IDF menembaki menara pengamat yang menjadi bagian dari Markas UNIFIL di Naqoura, Lebanon.
UNIFIL menegaskan bahwa setiap serangan yang secara sengaja ditujukan kepada anggota pasukan perdamaian merupakan pelanggaran terhadap Resolusi Nomor 1701 yang dikeluarkan oleh Dewan Keamanan PBB. Mereka juga menyatakan sedang menindaklanjuti masalah ini dengan pihak IDF.
ANTARA
TNI Angkat Bicara Soal Penambahan Pasukan di Lebanon
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Chelsea Dipermalukan Tottenham Hotspur 0-2 di Stamford Bridge
Ubed ke Final French Open setelah Tundukkan Lanier
Rachel/Febi Gagal ke Final French Open
Lewis Hamilton Tercepat dalam Sesi Latihan Bebas GP Amerika Serikat
Timnas Indonesia U15 Menang Telak atas Fiji, Hariri dan Dicky Dua Gol
Leo/Daniel Kandas di Semifinal French Open
Komentar (0)
Memuat komentar…







