BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai impor Kalimantan Tengah pada Agustus 2024 mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng, nilai impor tercatat sebesar US$2,59 juta, turun 31,12 persen dibandingkan dengan Juli 2024 yang mencapai US$3,76 juta.
"Penurunan ini juga tercermin dalam volume impor yang menyusut 35,94 persen, dari 7,29 ribu ton pada Juli 2024 menjadi 4,67 ribu ton pada Agustus 2024," kata Kepala BPS Kalteng, Agnes Widiastuti pada Minggu, 13 Oktober 2024.
Agnes Widiastuti menjelaskan bahwa penurunan nilai impor ini terutama disebabkan oleh turunnya nilai impor kelompok migas.
"Nilai impor migas turun dari US$1,96 juta pada Juli 2024 menjadi US$1,18 juta pada Agustus 2024," ungkap Agnes.
Selain itu, katanya, kelompok non-migas juga mengalami penurunan dari US$1,80 juta pada Juli 2024 menjadi US$1,41 juta pada Agustus 2024.
Agnes menambahkan bahwa penurunan impor ini tidak hanya terjadi pada nilai, tetapi juga pada volume.
"Volume impor kelompok migas dan non-migas sama-sama mengalami penurunan. Industri pengolahan menjadi salah satu sektor yang paling terdampak," jelasnya.
Penurunan ini mencerminkan berkurangnya kebutuhan bahan bakar mineral seperti aspal, yang merupakan salah satu komoditas utama impor.
Menurut Agnes, penurunan impor ini juga dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal.
"Selain penurunan permintaan global, ada juga faktor domestik seperti penurunan aktivitas industri yang mempengaruhi kebutuhan impor," katanya.
Meskipun demikian, Agnes optimis bahwa kondisi ini bersifat sementara dan akan membaik seiring dengan pemulihan ekonomi.
Lebih lanjut, Agnes menyebutkan bahwa penurunan impor ini juga berdampak pada neraca perdagangan Kalimantan Tengah.
"Meskipun nilai impor turun, kita masih mencatat surplus perdagangan karena nilai ekspor kita tetap kuat," ujarnya.
Hal ini menunjukkan bahwa Kalimantan Tengah masih memiliki daya saing yang baik di pasar internasional.
Secara keseluruhan, penurunan impor pada Agustus 2024 mencerminkan dinamika ekonomi yang kompleks.
"Kami akan terus memantau perkembangan ini dan memberikan informasi yang akurat kepada publik," tutur Agnes.
Dengan demikian, diharapkan masyarakat dan pelaku usaha dapat mengambil langkah yang tepat dalam menghadapi perubahan ekonomi ini. (TESTI PRISCILLA/H)









