**Borneonews - Moskow**, Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan bahwa BRICS tidak pernah dan tidak berencana untuk bertransformasi menjadi sebuah aliansi militer. Pernyataan tersebut disampaikan pada hari Sabtu, merespons berbagai tuduhan yang beredar.
Dalam pernyataannya, kementerian menegaskan, "BRICS bukanlah dan tidak akan pernah menjadi aliansi militer. Selain itu, BRICS juga tidak dapat dikategorikan sebagai organisasi internasional atau struktur integrasi formal. Ini lebih merupakan persatuan multinasional di mana anggotanya setara."
Klarifikasi ini diungkapkan untuk menjawab artikel yang dimuat oleh *The Times* pada bulan September, yang menyatakan bahwa ekspansi BRICS seharusnya menjadi kekhawatiran bagi NATO. Kementerian Luar Negeri Rusia menjelaskan bahwa BRICS adalah kemitraan strategis yang bersifat multidisiplin, berlandaskan pada tiga pilar utama: politik dan keamanan, ekonomi dan keuangan, serta budaya dan hubungan kemanusiaan.
Lebih lanjut, kementerian menyampaikan, "Hubungan antara negara-negara anggota BRICS didasarkan pada prinsip kesetaraan, saling menghormati, keterbukaan, pragmatisme, solidaritas, dan yang terpenting, tidak berseberangan dengan siapa pun."
Salah satu tujuan utama dari BRICS adalah membentuk sistem ekonomi global yang lebih adil dan multilateral. Sejak awal berdirinya, blok ini telah mendukung resolusi damai untuk setiap sengketa internasional dengan mengedepankan hukum internasional serta menghormati kedaulatan semua negara.
Kementerian menambahkan bahwa perluasan BRICS mencerminkan pergeseran dalam peta ekonomi dunia dan berkontribusi pada penguatan posisi negara-negara berkembang dalam kancah internasional. BRICS sendiri merupakan asosiasi antarpemerintah yang didirikan pada tahun 2006.
Tahun ini, Rusia akan mulai menjabat sebagai ketua BRICS pada 1 Januari 2024, menggantikan peran negara-negara anggota lainnya. Pada tahun ini, BRICS juga menyambut keanggotaan baru dari beberapa negara, di antaranya Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, bersama dengan anggota yang sudah ada seperti Brasil, India, China, dan Afrika Selatan.
Menjelang kepresidenan Rusia di BRICS, fokus utama adalah memperkuat multilateralisme demi pencapaian pembangunan dan keamanan global yang lebih adil. Untuk mendukung inisiatif ini, Rusia telah merencanakan lebih dari 200 acara beragam yang mencakup aspek politik, ekonomi, dan sosial.
ANTARA
BRICS Tegaskan Tidak Berencana Menjadi Aliansi Militer
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kapolres Gumas Tanam 50 Bibit Pucuk Merah di Lahan Bekas Karhutla
OJK Kalteng Manfaatkan Momentum BIK 2026, Dorong Masyarakat Bangun Ketahanan Finansial
Erupsi Gunung Semeru Terjadi Enam Kali dengan Tinggi Letusan Hingga 1,2 Km
Jarak Pandang Terbatas Akibat Kabut Asap, Wakil Ketua III DPRD Kalteng Minta Masyarakat Waspada
Jaringan Peredaran Kayu Ilegal Didalami Pihak Kemenhut
Tokoh Lintas Agama Kalteng Tekankan Kebersamaan Hadapi Kemarau dan Karhutla
Komentar (0)
Memuat komentar…







