BANDUNG –
**Borneonews - Garut**, Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Garut, yang terletak di Jawa Barat, tengah berupaya untuk mengembangkan inovasi berupa alat penggilingan padi portabel. Inisiatif ini bertujuan untuk menekan biaya produksi, sehingga dapat memberikan keuntungan yang lebih besar bagi para petani. Kepala Dispertan Kabupaten Garut, Haeruman, menjelaskan bahwa inovasi ini merupakan hasil karya penyuluh pertanian, Ahmad Nasir Ginanjar. Karya Ahmad berupa mini *huller* padi yang menggunakan bahan bakar gas telah berhasil memasuki babak final dalam ajang ASN Berprestasi Tingkat Jawa Barat. "Saat ini, kami fokus untuk menyempurnakan teknologi yang telah dikembangkan oleh Ahmad," ujar Haeruman. Ia menambahkan bahwa siap diterapkannya teknologi ini di sektor pertanian di Garut, bahkan sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat telah memesan alat tersebut. Alat penggilingan padi ini menggunakan gas dan dapat menggiling hingga 400 kilogram beras dengan hanya menggunakan satu tabung gas seberat tiga kilogram. Biaya yang dikeluarkan untuk penggilingan hanya sebesar Rp55 per kilogram, jauh lebih murah dibandingkan dengan metode konvensional yang memerlukan biaya sekitar Rp700 per kilogram. Lebih dari itu, alat ini juga menawarkan keunggulan lain, yakni hasil penggilingan yang mencapai 68 persen, melebihi rata-rata penggilingan konvensional yang hanya berkisar antara 60-62 persen. Haeruman menjelaskan bahwa inovasi ini bukan hanya memberikan nilai ekonomis, tetapi juga selaras dengan upaya mendukung efisiensi dan keberlanjutan pertanian di daerah Jawa Barat. Ia menyebut inovasi tersebut sebagai solusi canggih dan relevan dalam menghadapi tantangan pertanian masa kini. Ahmad Nasir, penemu mesin ini, mengungkapkan bahwa ide awal penciptaannya muncul setelah melihat petani mengeluhkan tingginya biaya produksi penggilingan yang menekan margin keuntungan mereka. Setelah melakukan riset serta berkonsultasi dengan para akademisi dan peneliti, Ahmad akhirnya berhasil menciptakan mesin penggilingan padi portabel yang merupakan inovasi baru di Indonesia. "Mesin ini lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar dan memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan mesin penggilingan yang ada," lanjut Ahmad. Ia juga menambahkan bahwa inovasinya telah melengkapi diri dengan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (Haki) dari Kementerian Hukum dan HAM. Mesin tersebut telah diuji oleh Balai Mekanisasi Pertanian, Jawa Barat, dan menunjukkan efisiensi yang lebih baik daripada penggilingan konvensional. Dari segi ukuran, mesin ini relatif kecil, hanya memiliki dimensi lebar 60 cm, panjang 110 cm, dan tinggi 120 cm, sehingga tidak memerlukan ruang yang besar untuk beroperasi. Biaya operasional dari satu tabung gas seberat tiga kilogram hanya sebesar Rp22.000, menjadikannya pilihan ekonomis. "Keunggulan lainnya adalah mesin ini beroperasi dengan suara yang tidak bising, sehingga sangat cocok untuk digunakan di pemukiman," tutup Ahmad. ANTARA