PONTIANAK –
**Borneonews - Sanggau**, Tim Perjalanan Mengenal Borneo gelombang pertama yang didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Dana Indonesiana, serta LPDP, telah melaksanakan peluncuran sebuah buku berjudul *Khazanah Arsitektur Dayak*. Buku ini mempersembahkan penelusuran mendalam terhadap keanekaragaman dan kekayaan arsitektur tradisional yang dimiliki oleh suku Dayak di Kalimantan. Arniyanti, salah satu anggota tim Perjalanan Mengenal Borneo, menjelaskan bahwa peluncuran buku ini dilaksanakan bersamaan dengan beberapa acara utama lainnya. Acara tersebut meliputi diskusi bertema *Masa Depan Heritage di Kalimantan Barat* dan Heritage Booth Camp yang diadakan di Rumah Betang Nek Bindang yang terletak di Kabupaten Sanggau. Buku *Khazanah Arsitektur Dayak* mengajak pembaca untuk memahami lebih dalam tentang 11 rumah betang yang menjadi objek kajian. Pemilihan rumah-rumah ini didasarkan pada keaslian, umur, dan keunikan arsitekturnya. Ini berusaha untuk menggambarkan warisan budaya yang sudah seharusnya dilestarikan. Pemaparan karya oleh kontributor buku ini akan dilangsungkan dalam acara peluncuran. Mereka yang terlibat dalam penulisan juga akan mendapatkan tanggapan dari beberapa pakar, termasuk Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, Yori Antar dari Uma Nusantara, dan Valentinus Pebriano dari Universitas Tanjungpura. Diskusi yang membahas masa depan *heritage* di Kalimantan Barat akan mencakup tiga tema utama. Pertama, aksi regulasi yang saat ini tengah dijalankan. Kedua, langkah-langkah yang perlu diambil di masa depan. Terakhir, kebutuhan masyarakat lokal dalam konferasi dan pelestarian warisan budaya mereka. Diskusi ini akan dipandu oleh Yeni Mada dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Selain itu, juga akan dihadiri beberapa ahli seperti M. Andri WP dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XII Kalimantan Barat, Valentinus Pebriano, serta Herman, seorang pemuda dari Desa Balai Belungai. Heritage Booth Camp menawarkan pengalaman langsung kepada para peserta untuk menjelajahi dan merasakan kehidupan di Rumah Betang Nek Bindang yang merupakan salah satu rumah adat yang diabadikan dalam buku tersebut. Para peserta akan tinggal di dalam rumah adat selama kegiatan ini. Yoris Mageda, penyusun buku *Khazanah Arsitektur Dayak*, mengungkapkan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam proses penyusunan buku ini. Ia juga menyoroti peran penting 11 kontributor yang berasal dari berbagai wilayah Kalimantan. Dengan peluncuran buku ini, Yoris berharap dapat memicu inisiatif serupa yang bertujuan untuk mendokumentasikan warisan budaya di Kalimantan lebih lanjut. Ia menunjukkan bahwa literatur dan inventarisasi kebudayaan di daerah ini masih sangat minim, dan berharap ini menjadi titik awal untuk mengembangkan pengetahuan lokal di masa depan. Pentingnya dokumentasi dan literasi budaya ditegaskan dalam konteks pelestarian warisan budaya. Yoris menekankan perlunya generasi muda terlibat aktif dalam upaya menjaga dan mengembangkan kebudayaan melalui berbagai macam kegiatan. Kegiatan diseminasi yang diadakan diharapkan dapat membuka perspektif baru tentang pentingnya pelestarian warisan budaya dan mendorong partisipasi berbagai pihak untuk melanjutkan usaha dokumentasi serta pengembangan khazanah budaya yang ada di Kalimantan Barat. ANTARA