SEMARANG –
**Borneonews - Solo**, Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII akan diselenggarakan di Kota Solo, Jawa Tengah, dari 6 hingga 13 Oktober 2024. Acara ini menampilkan 20 cabang olahraga yang memfasilitasi kompetisi bagi para atlet penyandang disabilitas dalam interval empat tahun sekali. Salah satu cabang olahraga yang kini menarik perhatian adalah *para-taekwondo*, yang untuk pertama kalinya akan dipertandingkan dalam Peparnas. Para atlet yang berpartisipasi dalam kategori ini diwajibkan memiliki kedua kaki yang berfungsi dengan baik dan dilarang menendang sasaran yang lebih tinggi dari kepala, serta tidak dapat mencetak poin lewat pukulan. *Para-taekwondo* diperuntukkan hanya bagi atlet yang mengalami *physical impairment* atau tuna daksa. Sebanyak 11 provinsi telah mendaftarkan atlet terbaik mereka untuk berkompetisi dalam kategori ini, yang akan digelar di auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Total terdapat 13 nomor pertandingan yang dibagi ke dalam kelompok putra dan putri, serta dalam kategori K44 dan K41. Dengan kehadiran cabang baru ini, beberapa provinsi melihat ini sebagai peluang emas untuk meraih medali. Terdapat juga banyak atlet yang beralih cabang ke para-taekwondo demi mendapatkan kesempatan meraih medali. Salah satu atlet yang berpindah adalah Eirene Yosepine Ritonga, yang meraih medali emas pada nomor under 42 kg K44. Eirene, seorang mahasiswi semester tiga Universitas Riau, mengalami transisi yang cukup singkat hanya dalam dua bulan untuk mempersiapkan diri menghadapi Peparnas. Dalam penuturannya, Eirene mengungkapkan bahwa ia memulai dari awal dalam *taekwondo*. Sebelumnya, ia adalah atlet para-renang yang memperkuat provinsi Riau pada Peparnas XVI di Papua. Dengan keputusan yang mendadak untuk berpindah cabang, Eirene berhasil mencapai hasil yang tidak terduga, meraih medali emas padahal sebelumnya hanya menargetkan medali perunggu. Meskipun baru di dunia *para-taekwondo*, ia bertekad untuk terus meningkatkan kemampuannya dan bercita-cita memperkuat tim nasional Indonesia pada tingkat internasional. Atlet lain yang mengambil langkah serupa adalah Dedi Setiawan, yang berkompetisi di nomor under 70 kg kategori K41. Dedi, yang sebelumnya merupakan pemain bulu tangkis, mengungkapkan bahwa keputusan beralih cabang tersebut diambil untuk menghadapi tantangan baru. Sejak bergabung dalam *para-taekwondo* pada tahun 2023, Dedi telah meraih medali emas setelah berhasil mengalahkan Rizki Ilhamsyah Tanjung dari Sumatera Utara. Ia berharap keberhasilannya di Peparnas XVII akan menjadi langkah awal untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi. Pada Peparnas 2024, Provinsi Sumatera Utara mencatatkan prestasi gemilang sebagai juara dengan total lima medali emas, dua perak, dan satu perunggu. Di posisi kedua ada Jawa Barat dengan memperoleh tiga emas, dua perak, dan satu perunggu, sementara Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta sama-sama meraih satu medali emas. Keberhasilan ini meskipun merupakan prestasi luar biasa bagi cabang olahraga yang baru saja diadakan, tetap dihadapkan pada tantangan besar. Pelatih tim para-taekwondo Provinsi Sumatera Utara, Bibi Wijaya, menjelaskan bahwa masih banyak yang harus dilakukan untuk mengembangkan para atlet, mengingat banyak dari mereka harus memulai dari dasar. Edukasi yang memadai, teknik yang tepat, serta mental yang kuat adalah kunci untuk membangun kemampuan atlet yang baru. Indonesia dianggap sedikit terlambat dalam mengembangkan *para-taekwondo* dibandingkan negara lain, meskipun banyak potensi atlet berbakat yang ada. Pelatih tim para-taekwondo DI Yogyakarta, Budi Setiadi Ibrahim, menekankan pentingnya program pembinaan yang berkelanjutan, bukan hanya saat menjelang kompetisi. Di Yogyakarta, atlet berlatih bersama dengan atlet normal di satu dojang untuk meningkatkan keterampilan dan pengalaman mereka. Kesadaran akan ketidakpastian dan ketidakpastian mengenai kekuatan tiap provinsi menjadi salah satu tantangan tersendiri. Banyak provinsi hanya mengirimkan atlet tanpa persiapan matang yang memadai. Oleh karena itu, Peparnas XVII di Solo diharapkan bisa menjadi titik awal dalam program pengembangan jangka panjang untuk *para-taekwondo* di Indonesia. Setelah Peparnas, penting untuk membentuk program pemusatan pelatihan nasional (pelatnas) *para-taekwondo*. Peluang besar terbuka bagi atlet setelah ajang tersebut, sehingga pembentukan pelatnas yang diharapkan bisa meningkatkan kualitas atlet. Selain itu, akan diperlukan juga lebih banyak kompetisi untuk memberikan pengalaman bagi atlet. Atlet *para-taekwondo* yang terpilih nantinya diharapkan tidak berpindah cabang lagi, sehingga persiapan jangka panjang yang terencana dengan baik bisa tercapai, dan membawa mereka untuk mencapai prestasi yang membanggakan. ANTARA