JAKARTA –
**Borneonews - Solo**, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menegaskan bahwa jalur kereta api Simpang Joglo di Solo, Jawa Tengah, dijadwalkan dapat beroperasi paling lambat pada tanggal 1 November 2024. Penegasan ini disampaikan saat meninjau progres pembangunan jembatan rel kereta api layang di lokasi tersebut. Menteri Perhubungan menyatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan Kementerian PUPR untuk melaksanakan tes beban pada tanggal 23 dan 24 Oktober 2024. Jika tes beban ini berhasil, maka operasional jalur kereta api tersebut dapat dimulai sesuai dengan target yang telah ditentukan. Selama kunjungan tersebut, Budi Karya Sumadi juga melakukan pemeriksaan langsung terhadap perkembangan pembangunan rel kereta api layang dengan menggunakan kereta lori dari Stasiun Kadipiro. Berdasarkan penilaian yang dilakukan, jalur tersebut sudah memenuhi syarat untuk digunakan. Namun, agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku, uji beban tetap akan dilaksanakan. Sebelumnya, jalur kereta api yang melintas di Simpang Joglo yang memiliki tujuh simpang sering menghadapi masalah kemacetan yang parah dan berpotensi menyebabkan kecelakaan. Dengan adanya pembangunan rel kereta api layang, diharapkan kemacetan dapat teratasi dan keselamatan di kawasan tersebut meningkat secara signifikan. Budi Karya Sumadi juga menjelaskan bahwa jembatan ini memiliki dua fungsi penting. Pertama, secara operasional untuk mengurai kemacetan di titik tersebut. Dengan dibangunnya infrastruktur ini, Simpang Joglo yang sebelumnya memiliki tujuh jalur kini akan berfungsi lebih efisien layaknya simpang empat berkat adanya *elevated* dan *underpass*. Dia menambahkan bahwa jembatan rel kereta api Simpang Joglo merupakan bagian dari proyek pembangunan rel ganda kereta api Solo-Semarang fase satu, khususnya pada segmen Solo Balapan-Kalioso dengan panjang sekitar 10 kilometer. Menurutnya, jembatan ini adalah rel layang terpanjang di Indonesia, dan diharapkan dapat membantu mengurangi kemacetan yang terjadi di perlintasan sebidang di Simpang Joglo, Solo. Dalam penjelasannya, Budi Karya Sumadi juga mengungkapkan bahwa desain konstruk jembatan rel layang telah mengadaptasi unsur-unsur kearifan lokal dari Kota Solo, seperti motif Batik Sidomukti, serta referensi dari Pasar Klewer dan Keraton. ANTARA