JAKARTA –
**Borneonews - Ankara**, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah mengambil langkah untuk mendiskusikan situasi yang tengah berkembang di Timur Tengah dengan Perdana Menteri Irak, Mohammed Shia al-Sudani, dan Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri. Diskusi ini dilaksanakan melalui sambungan telepon yang menunjukkan tingkat kekhawatiran yang mendalam terkait meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut. Dalam pernyataan yang dirilis oleh Istana Elysee, Macron dan al-Sudani menegaskan komitmen mereka untuk mencegah eskalasi konflik lebih lanjut di wilayah ini. Dalam kesempatan tersebut, Macron juga mengekspresikan rasa solidaritasnya kepada warga sipil yang menjadi korban serangan militer Israel, sekaligus menyerukan dilaksanakannya gencatan senjata yang mendesak di Gaza dan Lebanon. Kedua pemimpin tersebut tidak hanya mencerminkan kepedulian terhadap situasi yang berlangsung, tetapi juga berjanji untuk memperkuat hubungan bilateral di berbagai bidang. Melanjutkan komunikasi, Macron juga berbicara dengan Nabih Berri, di mana ia menyampaikan keprihatinannya yang mendalam terhadap intensitas serangan Israel yang mengarah pada dampak "dramatis" bagi masyarakat sipil Lebanon. Macron menggarisbawahi pentingnya gencatan senjata segera di Lebanon serta menegaskan kembali komitmen Prancis untuk melindungi kedaulatan, integritas teritorial, dan keamanan negara tersebut, selaras dengan Resolusi PBB 1701. Dalam momen yang dianggap krusial ini, Macron juga mendesak semua elemen politik di Lebanon untuk bersatu dalam memilih seorang presiden yang dapat berperan sebagai "penjamin persatuan nasional." Lebih lanjut, Presiden Prancis ini mengingatkan bahwa sebuah konferensi internasional akan dilaksanakan di Paris pada 24 Oktober mendatang guna mendukung Lebanon. Dalam wacana tersebut, ia juga menunjukkan kemarahannya terhadap tindakan penargetan yang dianggap "tidak adil" terhadap Pasukan Sementara PBB di Lebanon (*UNIFIL*), sambil menegaskan komitmen kuat Prancis terhadap misi tersebut. Sejak 23 September, Israel telah meluncurkan serangkaian serangan udara besar-besaran di Lebanon, yang ditargetkan pada apa yang diklaim sebagai instalasi Hizbullah, mengakibatkan sedikitnya 1.437 orang kehilangan nyawa dan lebih dari 4.123 lainnya mengalami luka-luka. Lebih dari 1,34 juta orang di wilayah tersebut terpaksa mengungsi akibat konflik yang berkepanjangan. Serangan-serangan ini merupakan bagian dari eskalasi perang yang telah berlangsung antara Israel dan Hizbullah selama satu tahun terakhir, yang semakin meruncing sejak operasi militer Israel di Jalur Gaza. Dalam pertempuran yang terjadi di wilayah tersebut, tercatat lebih dari 42.200 korban jiwa, di mana mayoritasnya adalah perempuan dan anak-anak, sejak serangan Hamas dimulai tahun lalu. Meskipun ada peringatan dari berbagai pihak mengenai kemungkinan terjadinya perang regional yang lebih luas di Timur Tengah, serangan Israel yang terus berlanjut terhadap Gaza dan Lebanon menunjukkan niatan mereka untuk memperluas konflik. Pasukan Zionis bahkan memperluas ancaman ke Lebanon selatan pada 1 Oktober, menambah kompleksitas dan ketegangan yang sudah ada di kawasan. ANTARA