JAKARTA –
**Borneonews - Merauke**, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya penguatan kelembagaan petani milenial di Kabupaten Merauke, yang terletak di Papua Selatan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas, produktivitas, serta kontribusi petani dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Mentan menyatakan bahwa generasi milenial memiliki potensi besar untuk membawa inovasi dalam dunia pertanian. Dalam pernyataannya, dia menyebutkan tiga instrumen penting yang perlu dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia, terutama dalam sektor pangan. Tiga instrumen tersebut meliputi produktivitas kaum milenial, pengelolaan sumber daya lahan, dan penggunaan teknologi modern. Amran menekankan perlunya memperkokoh lembaga yang mendukung petani milenial, khususnya di Merauke, guna modernisasi dalam sektor pertanian. "Kemitraan dengan generasi milenial dalam proses produksi pertanian sangat penting sehingga mereka bisa berkontribusi dengan cara yang aktif dan kreatif," pungkasnya saat melakukan kunjungan kerja di Kampung Telaga Sari, Distrik Kurik, Merauke. Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa generasi muda cenderung kurang berminat untuk bekerja di sektor pertanian jika tidak didukung oleh keuntungan ekonomi atau tanpa pemanfaatan teknologi. Oleh sebab itu, pemerintah telah mengalokasikan anggaran mencapai Rp68 triliun untuk memperkuat sektor pertanian. Amran juga menggarisbawahi pentingnya pengelolaan sumber daya lahan secara berkelanjutan. Dia mengusulkan pembentukan brigada yang terdiri dari kaum milenial untuk mengelola lahan tersebut. "Satu brigada dapat terdiri dari 15 orang untuk mengolah lahan seluas 200 hektar, dengan dukungan peralatan seperti *combine harvester*, traktor, dan fasilitas produksi lainnya, yang total investasi mencapai lebih dari Rp3 miliar," ujarnya. Penggunaan teknologi canggih menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi serta produktivitas dalam dunia pertanian. Amran mendorong adanya transformasi sosial dan teknologi modern di Merauke sehingga daerah ini dapat menjadi pusat pertanian modern yang setara dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang, dengan kaum milenial sebagai pelopor perubahan tersebut. Dalam pembahasannya, Mentan juga menyinggung potensi hasil usaha pertanian. Dia menjelaskan bahwa distribusi hasil dapat ditentukan dengan skema 70 - 30 persen, di mana 70 persen dari hasil petani milenial dan 30 persen untuk pemilik lahan. "Kami memperkirakan, para milenial yang terjun ke lahan dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp20 juta per bulan, yang melebihi gaji Menteri," tambahnya. Di hadapan masyarakat yang hadir, Mentan mengangkat contoh seorang petani bernama Petrus Awi, yang memanfaatkan jasa *combine harvester*. Petrus berhasil panen empat hektar dalam sehari dan memperoleh penghasilan mencapai Rp6 juta, yang jika dihitung per bulan bisa mencapai Rp180 juta. "Saya berharap banyak lagi Petrus dari masyarakat lokal yang bisa meraih kesuksesan serupa," ungkapnya. Dengan pengoptimasian lahan di Merauke, Mentan berharap dapat memberikan motivasi dan dorongan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, untuk berpartisipasi aktif dalam sektor pertanian demi mencapai visi Indonesia Emas 2045. Sementara itu, Mario Bendokbiran, seorang petani milenial asal Merauke, mengungkapkan bahwa saat ini ia mengolah lahan seluas 6 hektar dari total 50 hektar yang dimilikinya berkat program optimalisasi lahan. "Saya bersyukur atas adanya program ini, keluarga saya yang sebelumnya mengalami kendala kini bisa bergerak kembali," ujar Mario. Dia juga mengajak semua kaum milenial di daerahnya untuk aktif terlibat dalam sektor pertanian, yang dinilai memiliki potensi besar. "Saya harap teman-teman lainnya bisa memanfaatkan program ini. Marilah kita bersama membangun masa depan yang lebih baik melalui pertanian," tutup Mario. ANTARA