JAKARTA –
**Borneonews - Moskow**, Kementerian Luar Negeri Turki pada hari Minggu, 13 Oktober, mengeluarkan pernyataan resmi yang mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk mengambil tindakan tegas guna mencegah serangan lebih lanjut oleh pasukan bersenjata Israel terhadap Pasukan Sementara PBB di Lebanon, atau yang dikenal dengan *United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL)*. Dalam pernyataannya, Kemenlu Turki menegaskan bahwa setiap negara anggota DK PBB memiliki tanggung jawab untuk melindungi pasukan PBB yang telah mereka mandatkan. "Kami menyerukan kepada semua negara untuk bersatu dan mengambil sikap tegas terhadap Israel serta negara-negara yang mendukung dan memasok senjata kepada mereka," ujar Kemenlu. Pada hari yang sama, pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon menyampaikan laporan mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh Israel, termasuk pelanggaran Garis Biru, yang berfungsi sebagai batas antara Israel dan Lebanon. Insiden ini juga melibatkan penyerangan ke pangkalan PBB di desa Ramyah, yang terletak di perbatasan selatan Lebanon. UNIFIL menilai peristiwa tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan mendesak Israel untuk memberikan penjelasan mengenai tindakan tersebut. Kemenlu Turki menekankan pentingnya keberadaan UNIFIL untuk menjaga stabilitas kawasan dan memastikan bahwa pasukan penjaga perdamaian dapat menjalankan mandat mereka dengan efektif. Serangan yang berlangsung ulang terhadap UNIFIL, sebagaimana dinyatakan oleh Kemenlu, menunjukkan secara jelas perilaku agresif Israel di Lebanon dan keinginannya untuk menggunakan kekuatan militer tanpa ragu. Selain itu, pada hari Sabtu, 12 Oktober, UNIFIL melaporkan bahwa sebuah tank Israel pada hari Kamis, 10 Oktober, menembaki langsung markas mereka di Naqoura, yang mengakibatkan dua personel PBB terluka. Dalam insiden lain, dua penjaga perdamaian juga mengalami cedera pada tanggal 11 Oktober akibat ledakan yang terjadi di dekat menara pengamatan mereka. Sejak awal bulan Oktober, Israel telah melancarkan operasi darat melawan kelompok Hizbullah di selatan Lebanon, disertai serangan udara dan peluncuran roket. Akibat dari eskalasi konflik tersebut, jumlah korban jiwa di Lebanon telah meloncat melebihi 2.000. Meskipun mengalami kerugian, Hizbullah terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Israel dan meluncurkan roket ke arah wilayah Israel. Israel mengungkapkan bahwa salah satu tujuan utama dari operasi militer ini adalah menciptakan kondisi yang memungkinkan sekitar 60.000 warga yang mengungsi dari utara Israel akibat serangan untuk kembali ke tempat tinggal mereka dengan aman. ANTARA