JAYAPURA –
**Borneonews - Jayapura**, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan perkiraan kebutuhan uang tunai untuk triwulan IV tahun 2024 akan mencapai Rp7,56 triliun. Angka ini terdiri dari Rp7,41 triliun dalam bentuk Uang Pecahan Besar (UPB) dan Rp153,5 miliar untuk Uang Pecahan Kecil (UPK). Deputi Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Tommy Andreas, menjelaskan bahwa prediksi ini menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan dengan kebutuhan uang tunai pada tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar Rp4,7 triliun. Ia menambahkan, momen-momen penting seperti Hari Raya Natal dan Tahun Baru turut berkontribusi terhadap lonjakan kebutuhan uang tunai tersebut. Selain itu, pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak juga menjadi faktor pendorong utama. Tommy menilai, pesta demokrasi yang berlangsung di Papua akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah. Hal ini diperkirakan akan meningkatkan permintaan di sektor-sektor seperti jasa, perdagangan, akomodasi, dan transportasi. Ia memastikan bahwa situasi perekonomian akan berjalan lancar dan aman berkat adanya Pilkada, sehingga dapat menciptakan iklim ekonomi yang lebih baik. Meskipun demikian, Tommy berharap agar pemerintah, melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), terus memperkuat kerjasama dan kolaborasi untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya lonjakan harga selama periode Pilkada. Dia pun menyarankan beberapa langkah konkrit melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang mencakup berbagai inisiatif seperti pasar murah, rapat koordinasi, dan High-Level Meeting (HLM). Lebih lanjut, pentingnya pengendalian inflasi tak bisa diabaikan. Tommy menekankan bahwa adanya strategi keterjangkauan harga, menjaga ketersediaan pasokan, menjamin kelancaran distribusi, serta meningkatkan komunikasi yang efektif adalah hal-hal yang krusial dalam mendukung stabilitas ekonomi daerah. Selain itu, faktor keamanan juga dianggap sebagai elemen vital dalam menjaga kestabilan harga di wilayah Papua. ANTARA