**Borneonews - Jakarta Selatan**, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan melakukan evaluasi terhadap masalah stunting dengan fokus pada peningkatan tinggi dan berat badan anak. Langkah ini diambil untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dipantau dengan lebih akurat.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Yudi Dimyati, mengungkapkan bahwa evaluasi ini direncanakan akan dilaksanakan pada akhir bulan ini, dalam suatu rapat yang membahas konvergensi stunting. Proses evaluasi ini berlangsung selama tiga bulan, dengan tujuan untuk menghitung peningkatan tinggi badan anak dan memahami situasi jika ada anak yang telah melebihi batas usia yang seharusnya.
Yudi menjelaskan adanya perbedaan signifikan antara penanganan stunting dengan penanganan kasus gizi buruk. Dalam kasus gizi buruk, perubahan positif dapat segera terlihat setelah pemberian asupan yang tepat. Sementara itu, stunting merupakan masalah yang lebih kompleks, yang memerlukan waktu lebih lama untuk memberikan hasil yang diharapkan.
"Penambahan tinggi badan pada anak yang mengalami stunting membutuhkan waktu lebih lama dan dipengaruhi oleh berbagai faktor," ujar Yudi menambahkan.
Hingga bulan Oktober 2024, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan masih menangani sekitar 700 anak yang terindikasi mengalami stunting. Sebagai upaya mengatasi masalah ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meluncurkan program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT). Program ini melibatkan berbagai komponen masyarakat sebagai bagian dari strategi untuk menghadapi isu stunting.
DASHAT merupakan inisiatif yang termasuk dalam Proyek Prioritas Nasional (Pro PN). Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui edukasi dan pelatihan terkait gizi dan kesehatan serta pengolahan makanan yang sehat.
Tim pelaksana dari program DASHAT terdiri dari berbagai elemen, termasuk lurah yang berfungsi sebagai penanggung jawab, kepala puskesmas yang berperan sebagai wakil ketua, serta kader PKK, posyandu, dan Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Selain itu, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta optimis bahwa Kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) dapat memberikan kontribusi yang positif dalam menurunkan angka stunting pada anak-anak.
Dalam konteks prevalensi stunting, Jakarta mencatat angka yang masih di bawah rata-rata nasional. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, angka stunting di Jakarta berada di posisi dua terendah di Indonesia. Pada tahun 2022, prevalensi stunting tercatat sebesar 14,8 persen, sementara pada tahun 2023 mengalami peningkatan menjadi 17,6 persen.
ANTARA
Jakarta Selatan Evaluasi Penanganan Stunting untuk Anak Sehat
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Saingi China, Pabrik Mobil Jepang Pangkas Masa Pengembangan Model Baru
PDIP Dukung Revisi UU Peradilan Militer Pascaputusan MK
Pemerintah Luncurkan Program Pengawal Energi untuk 3.679 SPBU
BI Kalteng Ingatkan Bahaya Jual Beli Rekening dan QRIS
Kebobolan pada Menit Akhir, Persela Ditahan Imbang De Red FC 2-2
Erick Thohir Berikan Surat Dukungan kepada Presiden FIFA
Komentar (0)
Memuat komentar…







