JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Bank Indonesia (BI) menginformasikan bahwa utang luar negeri (ULN) Indonesia pada bulan Agustus 2024 tetap dalam posisi terkendali. Total utang luar negeri tercatat mencapai 425,1 miliar dolar AS, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 7,3 persen. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa perkembangan utang ini berasal dari kontribusi sektor publik serta sektor swasta. Selain itu, posisi ULN di bulan Agustus ini juga dipengaruhi oleh pengaruh pelemahan nilai *dolar AS* terhadap sebagian besar mata uang lainnya, termasuk rupiah. Ramdan juga menekankan bahwa struktur ULN Indonesia menunjukkan kesehatan yang baik, berkat penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan utang. Hal ini dapat dilihat dari rasio utang luar negeri dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat stabil di angka 31 persen. Sebagian besar, yaitu 84,3 persen, dari total ULN diisi oleh utang jangka panjang. Pada bulan Agustus 2024, posisi utang pemerintah mencapai 200,4 miliar dolar AS, yang menunjukkan pertumbuhan 4,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan Juli 2024 yang hanya mencapai 0,6 persen. Peningkatan posisi utang luar negeri ini terutama disebabkan oleh peningkatan arus masuk modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) yang ada di domestik. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kepercayaan para investor terhadap prospek perekonomian Indonesia ke depan. Sebagai salah satu sumber pembiayaan untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), penggunaan utang luar negeri diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor-sektor produktif serta pengeluaran prioritas untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tetap positif. Utang pemerintah dikelola dengan penuh kehati-hatian, kredibilitas, dan akuntabilitas, bertujuan untuk mendukung pengeluaran di berbagai sektor, termasuk layanan kesehatan dan kegiatan sosial yang menyerap 20,9 persen dari total utang pemerintah. Selain itu, sektor-sektor lain seperti administrasi pemerintah, pertahanan dan jaminan sosial, pendidikan, konstruksi, serta jasa keuangan dan asuransi juga mendapatkan perhatian dengan pangsa masing-masing mencapai 18,9 persen, 16,8 persen, 13,6 persen, dan 9,3 persen. Perlu dicatat bahwa hampir seluruh utang pemerintah memiliki tenor jangka panjang, dengan pangsa mencapai 99,9 persen dari total utang pemerintah, yang menunjukkan bahwa posisi utang tetap dalam batas aman. Di sisi lain, utang swasta juga terpantau stabil, dengan total mencapai 197,8 miliar dolar AS pada Agustus 2024, dan mengalami pertumbuhan 1,3 persen dibandingkan tahun lalu. Angka ini sedikit lebih tinggi daripada pertumbuhan yang tercatat pada bulan Juli 2024 sebesar 0,5 persen. Pendorong utama untuk perkembangan utang luar negeri ini adalah utang dari perusahaan non-lembaga keuangan yang menunjukkan pertumbuhan 1,6 persen. Dalam hal ini, sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan menjadi kontributor terbesar, dengan pangsa mencapai 79,3 persen dari total utang swasta. Utang swasta pun didominasi oleh utang jangka panjang yang mencakup 75,5 persen dari total utang swasta. Dalam upayanya untuk menjaga kesehatan struktur utang luar negeri, Bank Indonesia dan pemerintah bersinergi dalam memantau dan memperkuat koordinasi terkait perkembangan utang. Optimisasi peran utang luar negeri akan terus dilakukan untuk mendukung pembiayaan pembangunan serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan, sambil meminimalkan risiko yang mungkin memengaruhi stabilitas perekonomian. ANTARA