JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco mengungkapkan bahwa presiden terpilih, Prabowo Subianto, telah meminta Partai NasDem untuk mengusulkan nama-nama kader mereka dalam rangka merumuskan susunan kabinet pemerintahan yang akan datang. Meskipun permintaan tersebut diajukan, Partai NasDem yang dipimpin oleh Surya Paloh memutuskan untuk tidak mengusulkan nama kadernya, meskipun tetap memberikan dukungan penuh terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran untuk periode mendatang. Dasco menjelaskan bahwa keinginan Prabowo untuk mendapatkan usulan nama kader tidak terwujud, mengingat NasDem telah menegaskan dukungannya untuk pemerintah meskipun tanpa keterlibatan kader mereka dalam kabinet. "Ya, tadinya Pak Prabowo tetap minta, tetapi karena NasDem menyampaikan bahwa tetap akan mendukung penuh pemerintahan walaupun tidak ada kader yang di kabinet," ujarnya saat konferensi pers di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada hari Senin. Dia menambahkankan bahwa keputusan NasDem untuk tidak mengirimkan usulan nama kader bukanlah karena mereka tidak mendapat jatah kursi di kabinet, tetapi semata-mata merupakan sikap yang diambil oleh partai tersebut. Hal ini merupakan hasil dari percakapan antara Ketua Umum NasDem dan Prabowo Subianto sebagai Ketua Umum Partai Gerindra. "Jadi memang proses pertemuan antara Ketua Umum NasDem dan Ketua Umum Partai Gerindra pada waktu itu yang presiden terpilih Pak Prabowo Subianto, bahwa NasDem akan mendukung penuh pemerintahan Prabowo-Gibran, tetapi tidak menempatkan menterinya di kabinet," tutur Dasco lebih lanjut. Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai NasDem Saan Mustopa juga memastikan bahwa partainya akan tetap bergabung dalam koalisi pemerintahan Prabowo-Gibran. Dalam pernyataannya, ia menyebutkan bahwa Surya Paloh telah secara tegas menyampaikan dukungan 100 persen kepada pemerintahan Prabowo dan Gibran. "Dari awal ya, Ketua Umum Pak Surya sudah menegaskan bahwa NasDem 100 persen mendukung pemerintahan Pak Prabowo-Pak Gibran," jelas Saan saat bertemu di Kompleks Parlemen. Saan menekankan bahwa keputusan NasDem untuk tidak mencalonkan nama dalam kabinet berkaitan dengan etika dan kepantasan. Partainya mengingat bahwa mereka tidak berperan sebagai partai pendukung resmi dalam Pilpres 2024 dan termasuk dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM), sehingga mereka memilih untuk memberi prioritas kepada partai-partai lain dalam pengisian kursi kabinet baru Prabowo-Gibran. "Jadi sekali lagi ini lebih kepada soal etika dan kepantasan saja karena memang NasDem bukan partai pendukung (saat Pilpres 2024) sehingga kalau misalnya NasDem ribut soal kabinet rasanya kurang pas lah," tutup Saan. ANTARA