**Borneonews - Kendari**, Penjabat (Pj) Bupati Kolaka Utara (Kolut), Yusmin, menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya menangani masalah stunting yang kian mendesak. Yusmin menegaskan bahwa penanggulangan stunting bukanlah tugas satu pihak saja, melainkan tanggung jawab kolektif dari seluruh elemen masyarakat.
Dalam percakapannya di Kendari, Yusmin menjelaskan bahwa setiap pihak, mulai dari perangkat daerah (OPD), forkopimda, hingga pemerintah desa, perlu menunjukkan komitmen penuh untuk berkolaborasi dalam menurunkan angka stunting. Pernyataan ini disampaikan saat kegiatan Rembuk Stunting 2024, yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di Kolut.
Yusmin menegaskan bahwa stunting menjadi tantangan signifikan bagi kawasan tersebut. Berdasarkan survei kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi stunting di Kolut tercatat mencapai 31,8 persen. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 7 persen dibandingkan tahun lalu yang berada di angka 24,8 persen.
Meski menghadapi tantangan ini, Yusmin tetap optimis terhadap penurunan angka stunting pada masa mendatang. Ia merujuk pada data dari sistem Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (*EPPGBM*) yang menunjukkan penurunan dari 5,56 persen pada tahun 2023 menjadi 3,81 persen pada Juli 2024.
"Pemerintah daerah berkomitmen untuk mempercepat program penurunan stunting. Kami bekerja sama secara inklusif, memastikan bahwa setiap program yang dirancang mendapat dukungan penuh dari forkopimda. Dukungan ini sangat penting untuk menjamin sinergi program dari tingkat kabupaten hingga desa," tandasnya.
Dalam paparannya, Yusmin juga menyebutkan bahwa pada Juni 2024, sebanyak 10.041 balita di Kabupaten Kolut sudah mengikuti kegiatan posyandu di wilayah masing-masing. Dari jumlah tersebut, ada 357 balita yang teridentifikasi mengalami stunting.
Salah satu program yang mendapat perhatian khusus adalah pemberian makanan bergizi secara gratis kepada balita. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memastikan setiap anak di Kolut mendapatkan nutrisi yang cukup.
"Kami berupaya agar tidak ada lagi anak yang mengalami kekurangan gizi di Kolut. Kami memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, baik di sektor perikanan, pertanian, maupun perkebunan. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk gagal dalam menurunkan angka stunting," kata Yusmin menegaskan harapannya.
Yusmin menargetkan penurunan angka stunting di Kolut hingga mencapai 0 persen pada tahun 2045, seiring dengan visi Indonesia Emas.
Di sisi lain, Sekretaris Daerah (Sekda) Kolut, Taupik, menambahkan bahwa mereka telah melaksanakan sejumlah kegiatan strategis untuk mendukung penurunan stunting. Beberapa di antaranya termasuk pelaksanaan Bulan Pembangunan Balita yang diadakan pada Februari dan Juli serta penguatan peran camat dalam intervensi stunting. Selain itu, pemanfaatan dana desa juga berperan krusial dalam intervensi gizi bagi balita.
"Fokus kami adalah pada program-program yang tepat sasaran untuk percepatan penurunan stunting. Setiap OPD yang terlibat harus menjalankan program yang berdampak langsung pada masyarakat. Kami bukan hanya ingin membuat program, tetapi juga memastikan adanya hasil nyata di lapangan. Oleh karena itu, setiap program harus diukur dari sisi output dan dampaknya," jelas Taupik.
ANTARA
Kolaka Utara Dorong Kolaborasi Penanganan Stunting di 2024
Bagikan:

KENDARI –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Tokoh Lintas Agama Kalteng Tekankan Kebersamaan Hadapi Kemarau dan Karhutla
Flick Lawan Mourinho Serasa Superman vs Batman
Kepala DLH Palangka Raya Tinjau Langsung Pengelolaan Sampah di Dua Kecamatan
Polri Pantau Kawasan Konservasi Perkuat Perlindungan Orang Utan
Bupati Kobar Bermalam di TNTP Pantau Pemadaman Karhutla dan Kebutuhan Relawan
Dana Rp240 Miliar Disalurkan untuk Tangani Karhutla di Kalbar
Komentar (0)
Memuat komentar…







