**Borneonews - Lebak**, Produksi dompet yang berasal dari pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, kini telah berhasil menembus pasar di Jakarta. Hal ini sekaligus berkontribusi terhadap penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Yahya, seorang pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang kerajinan dompet, menjelaskan bahwa saat ini mereka telah menyerap tenaga kerja hingga 12 orang melalui sistem borongan. Upaya ini mendukung perekonomian masyarakat di Kampung Bangkalok, Lebak.
Dompet yang diproduksi memiliki beragam motif dan warna, dengan bahan baku yang berasal dari tenun khas masyarakat Badui, sehingga produk ini menjadi favorit di kalangan konsumen. Permintaan pasar di Jakarta tetap berlangsung normal, dengan harga rata-rata sekitar Rp480 ribu untuk setiap lusin atau 12 unit dompet.
Keterangan mengenai penjualan menyebutkan, mereka mampu menjual hingga 50 lusin dalam satu pekan, yang menghasilkan pendapatan mencapai Rp24 juta. Produksi dompet ini telah dilakukan selama sekitar 15 tahun, memberikan kesempatan kepada banyak orang untuk mendapatkan pekerjaan.
Setiap pekerja yang terlibat dalam proses produksi tersebut bisa menerima pendapatan bersih sekitar Rp600 ribu setiap minggunya. Selain fokus pada pasar di Jakarta, mereka juga memasarkan produk ke kawasan wisata yang terkenal dengan budaya Badui.
Yahya menambahkan harapan agar usaha kerajinan dompet ini dapat terus berlanjut dan tetap menguntungkan. Senada dengan itu, Rahmat, seorang pelaku UMKM lainnya, mengungkapkan bahwa permintaan tetap stabil, dengan rata-rata penjualan 50 lusin per pekan dari konsumen di Jakarta.
Dompet yang diproduksi khusus ditujukan untuk perempuan, menggunakan motif dan warna dari kain tenun Badui. Kebanyakan pelanggan berasal dari pedagang eceran yang beroperasi di Pasar Senen dan Mangga Dua, Jakarta.
Sementara itu, Santa, seorang pedagang dompet tenun Badui, mengungkapkan bahwa mereka juga menjual produk kepada wisatawan yang berkunjung. Kelebihan dompet tenun ini terletak pada keindahan motif serta kualitas bahan yang lembut.
Dengan harga eceran sekitar Rp100 ribu per satuan, Santa menyatakan bahwa mereka dapat meraih pendapatan hingga Rp1 juta dalam satu pekan.
Pemerintah daerah juga berperan aktif dalam mendukung pemasaran produk dompet khas Badui. Menurut Imam Suangsa, Sekretaris Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Kabupaten Lebak, pemerintah berencana untuk membantu pelaku UMKM melalui pameran yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Banten, Kabupaten Lebak, serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Lebih lanjut, pihaknya menargetkan agar seluruh pelaku UMKM dapat beradaptasi dengan ekosistem digital. Komitmen pemerintah adalah membantu dalam pemasaran dan promosi kerajinan dompet khas Badui, yang diharapkan dapat mendukung penguatan ekonomi masyarakat setempat.
ANTARA
Kerajinan Dompet Badui dari Lebak Temukan Pasar di Jakarta
Bagikan:

BANTEN –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Dokter Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan terhadap Anak Kandung Berusia 4 Tahun
Dampak Karhutla bagi Kesehatan Bukan Hanya Gangguan Pernapasan
Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kalteng, Patroli dan Evakuasi Satwa Diperkuat
Hadapi Isenmulang FC, PSIM Fokus Pulihkan Fisik dan Benahi Pertahanan
Jadwal Super League: Persib Hadapi Garudayaksa, Derbi Suramadu Warnai Pekan Ketujuh
Pria di Sampit Dilaporkan ke Polres Kotim atas Kasus Asusila terhadap Anak 8 Tahun
Komentar (0)
Memuat komentar…







