JAKARTA –
**Borneonews - Solo,** Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2024 resmi ditutup pada malam hari, Minggu (13/10), setelah berlangsung selama delapan hari di Stadion Manahan. Acara ini dimulai pada 6 Oktober dan berlangsung di Solo, Jawa Tengah, menggantikan lokasi semula yang direncanakan di Sumatera Utara. Penutupan Peparnas dilakukan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Dito Ariotedjo. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya semangat inklusivitas yang harus menjadi fondasi dalam kebijakan olahraga nasional ke depan. Tema Peparnas 2024, "Bedo Nanging Digdoyo," yang berarti "Berbeda tetapi Digdaya," merupakan wujud dari misi untuk menjadikan olahraga hak bagi semua. Dito juga menegaskan bahwa pemerintah akan terus berkomitmen untuk mendukung penyandang disabilitas agar dapat berpotensi dan berprestasi di bidang olahraga. "Para atlet difabel, yang saya sebut sebagai para juara, adalah buktinya bahwa olahraga adalah hak untuk semua orang," jelasnya dalam pidato penutupan. Acara penutupan sendiri diwarnai dengan berbagai pertunjukan seni, termasuk penampilan dari 180 penari, di mana beberapa di antaranya merupakan penyandang disabilitas. Dalam acara bertajuk "Harmoni Kaleidoskopis," Dito menyoroti bahwa keberanian dan kerja keras dari para atlet telah memberikan pelajaran berharga bagi semua. Ketua Panitia Besar Peparnas 2024, DB Susanto, juga menyatakan bahwa penyelenggaraan Peparnas kali ini menunjukkan kepada masyarakat bahwa tantangan tidak menghalangi untuk mencapai prestasi. Para atlet, baik yang menggunakan kursi roda, kaki palsu, maupun dengan kondisi lain, mampu menunjukkan kemampuan terbaik mereka, sehingga banyak rekor baru tercipta selama delapan hari penyelenggaraan. Kota Solo, yang dikenal sebagai Kota Batik, telah memiliki pengalaman dalam menyelenggarakan berbagai event olahraga, termasuk ASEAN Para Games 2022 dan Piala Dunia U-17 2023. Dito memuji kelancaran pelaksanaan Peparnas yang tidak menerima keluhan dari peserta atau masyarakat. Namun, evaluasi tetap direncanakan untuk menghadapi event-event mendatang. Ketua Umum National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI), Senny Marbun, menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang dinilai berperan signifikan dalam membongkar diskriminasi terhadap kaum difabel. Menurutnya, Jokowi memberi kesempatan yang adil bagi atlet difabel dan non-difabel tanpa membedakan bonus apapun setelah prestasi mereka. Peparnas kali ini diikuti oleh lebih dari 4.500 atlet dan ofisial dari 35 provinsi, yang bersaing dalam 20 cabang olahraga dan beberapa cabang eksibisi seperti *para-e-sport* dan *bola basket kursi roda*. Jawa Tengah berhasil meraih gelar juara umum dengan total 406 medali, yang terdiri dari 161 medali emas, 121 perak, dan 124 perunggu. Prestasi ini diperoleh terutama dari cabang para atletik, para balap sepeda, dan para tenis meja. Dito mengapresiasi prestasi Jawa Tengah dan memberikan selamat kepada semua atlet yang berjuang di Peparnas 2024. Osrita Muslim, Ketua Umum NPCI Jawa Tengah, menyatakan bahwa pencapaian ini adalah hasil dari kerja keras tim sejak dia memimpin pada 2017. Menjadi tuan rumah juga berperan besar dalam motivasi para atlet dan ofisial. Usai penyerahan lokasi dari Sumut ke Solo, NPCI Jateng segera melakukan persiapan untuk memperbesar kuota atlet yang ikut berlaga. Selama pergelaran Peparnas 2024, terdapat 144 rekor nasional dan satu rekor tingkat Asia Tenggara yang berhasil dipatahkan. Salah satu pencapaian signifikan adalah atlet Kalimantan Selatan, Ahmad Fauzi, yang mencetak rekor Asia Tenggara pada nomor lempar cakram F37 Putra. Andi Herman, Deputi Chef de Mission Kontingen Paralimpiade Indonesia, menilai rekor-rekor yang terpecahkan selama Peparnas ini dapat menjadi modal berharga bagi Indonesia dalam menghadapi berbagai kompetisi internasional mendatang, seperti ASEAN Para Games 2025 di Thailand dan Asian Para Games 2026 di Jepang. Sementara itu, Peparnas juga menjadi kesempatan strategis untuk regenerasi atlet. Dengan demikian, Peparnas 2024 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga platform untuk meningkatkan kesadaran akan kemampuan penyandang disabilitas, sekaligus menjadi dorongan bagi generasi atlet selanjutnya untuk meneruskan prestasi di kancah internasional. ANTARA