BANDA ACEH –
**Borneonews - Banda Aceh**, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan bahwa sepuluh daerah di Provinsi Aceh mengalami banjir akibat curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir. Kepala Pelaksana BPBA, Teuku Nara Setia, memberikan informasi bahwa kabupaten dan kota yang terdampak termasuk Aceh Utara, Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil, Nagan Raya, Aceh Timur, Aceh Tamiang, serta Kota Subulussalam. Total populasi yang terkena dampak banjir mencapai 29.540 orang, yang terdiri dari 9.118 kepala keluarga. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.259 jiwa terpaksa mengungsi, yang berasal dari 710 kepala keluarga yang berbeda. Berdasarkan data yang diperoleh BPBA, di Aceh Utara terdapat 37 gampong atau desa yang terpengaruh yang tersebar di dua kecamatan. Sementara itu, di Aceh Tenggara, banjir melanda 80 desa di 12 kecamatan. Tinggi permukaan air di Aceh Tenggara tercatat mencapai satu meter. Meskipun air mulai surut, laporan menunjukkan bahwa jalan lintas Gayo Lues menuju Kutacane sudah dapat dilalui, tetapi perbaikan pada tanggul yang jebol masih dalam tahap pengerjaan. Di daerah Aceh Barat Daya, hanya dua desa di dua kecamatan yang terkena imbas banjir. Di Aceh Selatan, dampak banjir meluas ke delapan desa di empat kecamatan. Di Nagan Raya, 21 desa di empat kecamatan juga terendam, sedangkan di Gayo Lues terdapat tiga desa di tiga kecamatan yang terdampak. Kondisi akses jalan lintas Gayo Lues menuju Aceh Timur di kawasan Empus Sange dilaporkan putus total. Hingga saat ini, beberapa daerah masih mengalami banjir dan tingkat air belum juga surut. Salah satunya adalah Aceh Singkil, yang merendam enam gampong di dua kecamatan dengan ketinggian air mencapai 70 sentimeter. Di Aceh Timur, terdapat tiga gampong di dua kecamatan yang juga terendam. Kota Subulussalam mengalami dampak di 22 desa yang tersebar di tiga kecamatan, sementara Aceh Tamiang menghadapi bencana di 43 desa di 12 kecamatan. Tinggi air di Aceh Tamiang bervariasi antara 10 hingga 100 sentimeter. Meskipun di daerah hulu sungai Tamiang air menunjukkan tanda-tanda penyurutan, wilayah hilir justru mengalami peningkatan ketinggian air. Akses jalan umum dan jalan perkebunan di wilayah tersebut masih dalam kondisi normal dan dapat dilalui oleh kendaraan. ANTARA