JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa hilirisasi merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dapat menghasilkan nilai tambah serta membuka peluang pekerjaan. Dalam sebuah acara yang berlangsung di Jakarta, Bahlil menyatakan, "Hilirisasi harus kita lakukan. Ketika saya menjabat di Kementerian Investasi, saya mengembangkan peta jalan hilirisasi yang berperan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi kita." Bahlil menekankan pentingnya hilirisasi sebagai langkah strategis yang telah menjadi fokus pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui pengelolaan sumber daya alam yang ada di dalam negeri. Selama masa jabatannya sebelumnya di Kementerian Investasi, ia telah merancang peta jalan hilirisasi yang diperkirakan akan mendatangkan potensi nilai investasi mencapai 618 miliar dolar AS hingga tahun 2040. "Dari 28 komoditas, total potensi nilai investasi mencapai 618 miliar dolar AS hingga tahun 2040. Ini bukan sekadar wacana; kita komitmen untuk melakukan hilirisasi pada 28 komoditas tersebut," tegas Bahlil. Meski demikian, ia tidak merincikan secara spesifik komoditas sumber daya alam yang termasuk dalam daftar tersebut. Bahlil juga menambahkan, berdasarkan peta jalan hilirisasi yang dibangunnya, dampak ekonomi yang dihasilkan dapat meningkatkan nilai ekspor Indonesia, diperkirakan mencapai 875,9 miliar dolar AS pada tahun 2040. Langkah ini, lanjutnya, sejalan dengan visi yang dimiliki oleh Presiden Jokowi serta presiden terpilih Prabowo Subianto untuk meningkatkan pendapatan per kapita rakyat Indonesia, diharapkan melebihi 10.000 dolar AS per kapita pada tahun 2029. Ia memberikan penekanan bahwa pengintegrasian bahan baku lokal dengan industri berteknologi tinggi akan menjadi faktor kunci dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat di berbagai sektor strategis. Beberapa sektor yang dimaksud meliputi hulu migas, batu bara, perikanan, perkebunan, dan kehutanan, yang semuanya memiliki potensi besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan. Bahlil optimis, apabila hilirisasi sektor-sektor tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi meningkat hingga 2 persen setiap tahunnya. Hal ini berpotensi membantu pemerintah mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada tahun 2029. Sebagai contoh nyata dari keberhasilan hilirisasi, Bahlil mengungkapkan perkembangan di sektor nikel, di mana ekspor nikel Indonesia melonjak dari 3,3 miliar dolar AS pada tahun 2017 menjadi hampir 34 miliar dolar AS pada tahun 2023. "Pada tahun 2017 dan 2018, ekspor kami hanya 3,3 miliar dolar AS. Kami menghentikan sementara ekspor bijih nikel karena smelter kami belum sampai 10. Sekarang, berkat hilirisasi, ekspor nikel telah mencapai hampir 34 miliar dolar AS. Dari sebelumnya Rp50 triliun kini menjadi Rp500 triliun," jelasnya. Keberhasilan ini dicapai setelah pemerintah memutuskan untuk menghentikan ekspor bijih nikel mentah dan mendorong pembangunan smelter domestik. Transformasi ini tidak hanya meningkatkan pendapatan negara dari pajak dan royalti, tetapi juga menciptakan kawasan-kawasan pertumbuhan ekonomi baru di seluruh Indonesia. Meski demikian, langkah Indonesia dalam menghentikan ekspor bahan baku mengalami tantangan dari tekanan internasional, terutama mengingat Indonesia memiliki cadangan nikel yang signifikan, mencapai 40-45 persen dari cadangan dunia. Bahlil menjelaskan, nikel menjadi komponen penting dalam produksi baterai untuk kendaraan listrik, sejalan dengan pergeseran global menuju sumber energi terbarukan. Dengan cadangan nikel, mangan, dan kobal yang melimpah, Indonesia berada dalam posisi strategis dalam rantai pasokan global untuk industri kendaraan listrik serta teknologi energi hijau. "Di dunia, penggunaan mobil listrik sangat bergantung pada bahan baku nikel, kobal, dan mangan dari Republik Indonesia. Jika kita bicara tentang kedaulatan negara, kita perlu memahami konteks geopolitik," tutup Bahlil. ANTARA