AMBON –
**Borneonews - Ambon**, Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Ambon yang berlokasi di Maluku, telah melaksanakan pelatihan khusus mengenai penanganan ikan tuna di atas kapal. Pelatihan ini ditujukan bagi para nelayan yang berdomisili di Distrik Fandoi, Kabupaten Biak Numfor, yang terletak di Jayapura, Papua. Kepala BPPP Ambon, Abubakar, menjelaskan bahwa mereka diundang sebagai narasumber untuk memberikan wawasan mengenai teknik penanganan ikan tuna dengan metode *Ike Jime*. Kegiatan ini merupakan bagian dari pelatihan mengenai penanganan ikan pascatangkap yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perikanan Pole and Line dan Handline Indonesia (AP2HI). Teknik *Ike Jime* sendiri merupakan metode asal Jepang yang dirancang untuk melumpuhkan ikan dan mengalirkan darahnya. Abubakar menekankan pentingnya metode ini untuk menjaga kesegaran ikan setelah ditangkap di atas kapal. Ia juga menambahkan bahwa jika teknik ini dilaksanakan dengan baik, maka tidak hanya akan menjaga cita rasa dan tekstur daging ikan, tetapi juga berpotensi mengembangkan dimensi *umami* saat ikan tersebut disimpan. Kegiatan pelatihan ini dihadiri oleh puluhan nelayan dari distrik tersebut. Diharapkan dengan adanya pelatihan ini, hasil tangkapan ikan tuna dari Distrik Fandoi dapat mencapai standar ekspor. Hal ini diharapkan akan menjadikan Kabupaten Biak sebagai salah satu pusat perikanan tuna, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan setempat. Lebih lanjut, dalam beberapa tahun terakhir, BPPP Ambon juga telah berkomitmen untuk meningkatkan pelatihan dan penyuluhan di bidang budi daya dan pengolahan perikanan. Ini merupakan langkah strategis untuk mendukung perekonomian masyarakat di wilayah tersebut. Salah satu inisiatif yang dilakukan adalah penyediaan bantuan Keramba Jaring Apung (KJA) bagi para nelayan kecil, yang dianggap penting untuk meningkatkan sumber daya manusia nelayan di Maluku. Bantuan KJA ini sangat krusial, terutama agar nelayan tetap dapat menghasilkan ikan meskipun menghadapi kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Selain itu, KJA juga berfungsi untuk memaksimalkan potensi budi daya perikanan, mengingat luas lahan yang tersedia untuk budi daya laut di Maluku mencapai 183.000 hektare, namun saat ini hanya sekitar 8.000 hektare yang telah dimanfaatkan. Upaya untuk meningkatkan pelatihan budi daya bagi para nelayan kecil di Maluku terus dilakukan. Hal ini bertujuan agar tidak hanya terfokus pada sektor perikanan tangkap, tetapi juga dapat mengembangkan usaha budi daya, yang memiliki potensi besar namun hingga saat ini belum dikelola secara optimal. ANTARA