BANGKA BELITUNG –
**Borneonews - Koba, Bangka Tengah**, Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, yang terletak di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menegaskan kembali komitmennya untuk memperkuat peran penyuluh keluarga berencana (PKB) dalam upaya menekan angka prevalensi stunting. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan masyarakat, terutama pada anak-anak. Dalam sebuah rapat koordinasi yang dilaksanakan pada hari Senin, Plt Bupati Bangka Tengah, Era Susanto, menyatakan bahwa keberadaan PKB dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) memiliki peran yang sangat krusial dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting. Era menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pihak-pihak terkait dalam menangani permasalahan kesehatan ini. Era menegaskan, "Kita harus bisa mencapai Bangka Tengah yang bebas dari *stunting*. Mari kita lakukan ini bersama-sama, kita intervensi masalah *stunting* untuk mendekati target yang diharapkan." Pernyataan ini menunjukkan tekad pemerintah daerah untuk bergerak maju dalam penyelesaian masalah kesehatan yang signifikan. Lebih lanjut, Era menjelaskan bahwa untuk merancang program penurunan *stunting*, perlu dilakukan analisis situasi yang mendetail agar semua intervensi dapat tepat sasaran dan sesuai dengan anggaran yang tersedia. "Kita berkumpul di sini untuk menganalisis situasi terkini. Penurunan *stunting* tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Kami berharap ada komitmen bersama agar penanganannya dapat berjalan secara berkelanjutan," imbuhnya. Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DPPKBPPPA) Bangka Tengah, Dede Lina Lindayanti, juga memberikan penjelasan mengenai peran TPK dan PKB dalam konteks penanganan *stunting* di lapangan. Ia menekankan bahwa tugas TPK adalah mendeteksi dini faktor risiko *stunting*, agar dapat meningkatkan akses informasi serta pelayanan bagi keluarga yang berisiko tinggi. Dede juga menyoroti perlunya dukungan dari berbagai elemen masyarakat seperti penyuluh KB, Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta para tenaga kesehatan. "Kita harus mengetahui data-data di lapangan mengenai keluarga-keluarga yang berisiko. Jika kita tidak melakukan pendampingan, maka masalah *stunting* akan terus ada," tegas Dede. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah menargetkan untuk menurunkan angka *stunting* hingga 10 persen pada tahun 2024. Data terakhir menunjukkan bahwa angka *stunting* di daerah tersebut tercatat sebesar 18,2 persen, mengalami penurunan dari angka 21,2 persen pada tahun 2022. Hal ini menunjukkan upaya yang progresif dalam menangani isu kesehatan masyarakat yang sangat penting ini. ANTARA