SEMARANG –
**Borneonews - Semarang**, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melaporkan bahwa sebanyak 5.134 unit pompa bantuan dari pemerintah pusat telah didistribusikan untuk mendukung sistem pengairan pada lahan pertanian di daerah tersebut. Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, Penjabat Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana, menyampaikan bahwa penggunaan pompa yang diberikan sebagai bantuan ini telah mencapai angka 93 persen. Efektivitas bantuan ini diharapkan dapat berkontribusi signifikan pada peningkatan produktivitas sektor pertanian di wilayah Jateng. Pernyataan tersebut disampaikan saat Rapat Koordinasi Wilayah yang memfokuskan diri pada pengamanan produksi serta percepatan pertanaman padi. Rapat ini dilaksanakan di kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) di Jateng. Nana Sudjana mengungkapkan bahwa Pemprov Jateng bertekad untuk memenuhi target luas tambah tanam (LTT) padi di provinsi mereka. Pada bulan September 2024, LTT di Jateng telah mencapai 65.140 hektare. Untuk bulan Oktober ini, angka tersebut ditargetkan dapat meningkat lagi menjadi antara 105.000 hingga 110.000 hektare. “Di bulan Oktober ini, kami mampu mencapai 105.000 hingga 110.000 hektare. Kami terus berupaya untuk mendekati target yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian,” tegasnya. Dengan adanya akselerasi yang dibutuhkan, Jateng diharapkan tetap dapat menjadi andalan dalam pasokan pangan nasional, bersama dengan Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur. Untuk itu, ia mendorong agar masing-masing kepala dinas di level kabupaten dan kota lebih aktif dalam mewujudkan LTT. “Selama ini, Jateng dikenal mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi padi. Namun masih ada ruang untuk perbaikan, terutama dalam memperluas area tanam,” tambahnya. Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jateng, Supriyanto, menjelaskan bahwa kebutuhan beras di provinsi ini berkisar antara 340.000 hingga 345.000 ton per bulan. Hal ini berarti diperlukan panen dari lahan seluas minimal 100.000 hektare setiap bulan, dengan rata-rata hasil produksi sekitar 5,5 hingga 5,6 ton per hektare. “Dengan demikian, hasil yang diperoleh mencapai antara 550.000 hingga 560.000 ton gabah kering giling. Jika dikonversi menjadi beras yang mencapai 62,74 persen, jumlahnya bisa mencapai 345.000 ton. Angka ini cukup untuk memenuhi kebutuhan selama sebulan,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), diperkirakan akan terjadi hujan di pertengahan bulan Oktober. Oleh karena itu, kondisi cuaca yang mendukung ini harus dimanfaatkan seoptimal mungkin agar target luas tanam dapat tercapai. ANTARA