**Borneonews - Beijing**, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa setiap pihak yang mendambakan perdamaian di Selat Taiwan harus secara tegas menolak segala bentuk "kemerdekaan Taiwan." Dalam sebuah konferensi pers yang berlangsung di Beijing, Mao menyatakan, "Siapa pun yang peduli dengan perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan hendaknya menentang dengan tegas dan utama 'kemerdekaan Taiwan.'"
Pada hari yang sama, Angkatan bersenjata China melaksanakan latihan militer keempat di sekitar Taiwan. Latihan ini diadakan beberapa hari setelah pernyataan oleh pemimpin Taiwan, Lai Ching-te, dalam sebuah acara yang merayakan "Hari Gencatan Senjata" pada 10 Oktober, yang dianggap hari nasional oleh Taiwan. Dalam pidatonya, Lai menekankan bahwa tujuan utamanya adalah untuk "mempertahankan komitmen terhadap kedaulatan Taiwan dan menolak segala upaya aneksasi."
Mao Ning menegaskan bahwa "kemerdekaan Taiwan" tidak sejalan dengan upaya menjaga perdamaian lintas Selat Taiwan, menyerupai dua elemen yang saling bertentangan, yaitu api dengan air. Ia memperingatkan bahwa setiap provokasi yang dilakukan oleh pihak pro-kemerdekaan Taiwan akan mendapatkan balasan yang sesuai.
Mao juga menegaskan komitmen China untuk menjaga perdamaian serta stabilitas di wilayah tersebut, yang dapat dibuktikan oleh banyak negara di kawasan. Ia menekankan bahwa Taiwan merupakan bagian integral dari China, dan persoalan Taiwan adalah urusan internal yang tidak dapat campur tangan dari pihak luar.
Dalam konteks latihan militer ini, yang diberi nama *Joint Sword-2024B*, dilakukan untuk menguji kemampuan operasi gabungan dari pasukan komando di berbagai wilayah sekitar Pulau Taiwan, termasuk utara, selatan, dan timur. Pesawat dan kapal perang China terlibat dalam latihan yang bersifat multi-dimensi, yang mendekati Taiwan dari berbagai arah dengan fokus pada patrul laut dan udara, pemblokiran pelabuhan penting, serta serangan terhadap berbagai target, baik maritim maupun darat.
Kementerian Pertahanan China menilai latihan ini sebagai upaya yang sah dan diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan negara serta membela persatuan nasional. Merespons latihan tersebut, pihak Taiwan mengecam tindakan China yang dinilai "tidak rasional dan provokatif," menegaskan bahwa mereka telah menyiapkan kekuatan yang memadai guna menjaga kebebasan, demokrasi, dan kedaulatan Taiwan.
Pemerintah Taiwan menilai bahwa latihan militer yang dilakukan oleh China merupakan provoaksi yang serius dan dapat merusak perdamaian serta stabilitas di kawasan. Selain itu, juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Matthew Miller, juga menyuarakan kecaman terhadap latihan militer China, menyatakan bahwa tindakan tersebut "tidak berdasar dan berisiko meningkatkan ketegangan." Ia mendesak Beijing untuk bertindak lebih hati-hati.
Mao Ning menutup pernyataan dengan mengingatkan bahwa jika Amerika Serikat benar-benar peduli terhadap perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan dan kawasan regional, mereka diharapkan untuk mematuhi prinsip 'Satu China' serta tiga komunike antara China-AS, menghentikan dukungan terhadap "kemerdekaan Taiwan," dan tidak lagi mengirim sinyal yang salah kepada pihak-pihak yang ingin memisahkan Taiwan dari China.
ANTARA
China Serukan Penolakan Kemerdekaan Taiwan untuk Perdamaian
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Veda Pratama Hormati Keputusan Pembatalan Moto3 Australia
Kebakaran Terjadi di Masjid Al-Muhajirin Cempaga Kotim
Ganda Campuran China Li/Huang Juarai Indonesia Masters 2026
BPN Berkontribusi Tingkatkan Nilai Ekonomi hingga Rp1.834 Triliun
Kebakaran di Jalan Pahlawan Marabahan, Api Membesar Dekat Sekolah
Pohon Tumbang dan Bangunan Rusak Diterjang Angin Kencang di Banjarbaru
Komentar (0)
Memuat komentar…







