JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Pertumbuhan ekonomi di Jakarta tetap stabil berkat dukungan dari investasi yang terus berjalan, menurut data yang diungkap oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta. Pada periode triwulan III tahun 2024, investasi dalam proyek-proyek strategis, terutama moda transportasi seperti *Moda Raya Terpadu* (MRT), telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi ibu kota. Kepala Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta, Arlyana Abubakar, menyatakan bahwa dukungan dari berbagai proyek strategis yang bersifat *multiyears* seperti MRT, *Light Rail Transit* (LRT), dan pembangunan jalan tol telah memperkuat laju pertumbuhan ekonomi Jakarta. Hal ini diungkapkan dalam acara "Jakarta Economic Forum 2024". Dalam proyeksinya, Arlyana memprediksi pertumbuhan ekonomi Jakarta untuk tahun 2024 berada dalam rentang 4,6 hingga 5,4 persen, sedikit di bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan antara 4,7 hingga 5,5 persen. Ini menunjukkan bahwa walaupun pertumbuhan daerah mungkin lebih rendah, Jakarta tetap menunjukkan kinerja yang positif. Arlyana juga mencatat bahwa ekspor dari Jakarta menunjukkan perbaikan, terutama pada sektor produk otomotif. Selain itu, momentum pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan didorong oleh kegiatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2024 serta Hari Besar Keagamaan Nasional, termasuk perayaan Natal dan Tahun Baru. Inflasi di Jakarta tetap terjaga di bawah batas yang ditentukan, dengan target inflasi sebesar 2,5 persen ditambah atau dikurangi 1. Pada bulan September 2024, inflasi Jakarta tercatat sebesar 1,7 persen dalam perbandingan tahunan (*year over year*), sedangkan inflasi nasional pada periode yang sama mencapai 1,84 persen. Arlyana menjelaskan bahwa inflasi ini sebagian besar disebabkan oleh peningkatan harga komoditas inti, sedangkan harga kelompok makanan mengalami penurunan berkat panen raya komoditas hortikultura. Komoditas lain yang berkaitan dengan harga barang tetap terjaga seiring dengan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Arlyana mengemukakan bahwa terjaganya tingkat inflasi ini merupakan cerminan dari konsistensi kebijakan moneter yang telah diterapkan, serta adanya sinergi yang kuat antara Bank Indonesia, pemerintah, dan pihak terkait, baik di tingkat pusat maupun daerah. Melihat ke depan, dia menekankan pentingnya memperkuat koordinasi dalam menghadapi risiko ketidakpastian global yang masih tinggi. "Kami akan terus memperkuat koordinasi untuk pengendalian inflasi dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, termasuk dengan mendorong kredit atau pembiayaan kepada sektor usaha," tambah Arlyana. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan stabilitas ekonomi di Jakarta akan terus terjaga dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. ANTARA