MATARAM –
**Borneonews - Mataram**, Krisis air bersih yang melanda Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, yang dikenal sebagai Gili Tramena, di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, berdampak serius pada sektor pariwisata. Situasi ini memerlukan perhatian dan penanganan yang segera untuk menghindari konsekuensi yang lebih parah. Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Lalu Gita Ariadi, menyatakan bahwa pemerintah provinsi telah mengadakan pertemuan dan diskusi intensif dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara untuk membahas isu ini. Dalam pernyataannya, Ia menuturkan, "Berbagai saran dan masukan telah kami sampaikan, dan Bupati Lombok Utara berkomitmen untuk menyelesaikan masalah krisis air di tiga gili tersebut." Sebagaimana diketahui, pada 24 September 2024, langkah tegas diambil oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, dengan mencabut izin lokasi perairan PT Tirta Cipta Nirwana. Alasan pencabutan izin ini adalah terungkapnya praktik pencemaran lingkungan akibat kegiatan perusahaan yang membuang limbah ke laut. Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan oleh Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, diketahui bahwa limbah yang dibuang ke laut telah mencemari dan merusak terumbu karang di Gili Trawangan. Pencemaran ini berdampak signifikan terhadap populasi ikan karang, yang mengalami penurunan hingga 75 persen. Lebih lanjut, PT Tirta Cipta Nirwana menggunakan metode pengeboran terarah atau *horizontal directional drilling* dalam proses produksi air bakunya. Metode ini melibatkan penggunaan bahan kimia seperti bentonit dan fitrol, yang berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Kondisi terumbu karang, yang sebelumnya dalam kategori cukup baik, kini mengalami penurunan kualitas yang drastis di sekitar lokasi semburan limbah pengeboran. Ekosistem tersebut mengalami kerusakan, dan karang mati dalam radius lebih dari 100 meter dari pusat pencemaran. Dengan dicabutnya izin operasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, PT Tirta Cipta Nirwana tidak lagi dapat beroperasi, mengakibatkan ketiga gili mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan air. Satu-satunya gili yang masih mendapatkan pasokan air adalah Gili Air, yang mendapatkan suplai dari daratan Lombok Utara melalui saluran pipa bawah laut. Sebagai akibat dari krisis air baku ini, sejumlah hotel dan restoran terpaksa mengimpor air menggunakan kapal dengan biaya yang cukup tinggi, mencapai Rp4,5 juta untuk setiap tangki air berkapasitas 5.000 liter. Hal ini tentunya menambah beban operasional dan mengancam keberlangsungan bisnis pariwisata di wilayah tersebut. ANTARA