**Borneonews - [Nama Lokasi/Wilayah/Tempat/Kota]**, Badan amal medis internasional, *Medecins Sans Frontieres* (MSF) atau lebih dikenal dengan nama *Doctors Without Borders*, mengumumkan pada hari Senin, 14 Oktober, bahwa mereka terpaksa menutup beberapa fasilitas medis di Lebanon. Penutupan ini disebabkan oleh meningkatnya serangan udara yang dilancarkan oleh Israel.
Dalam pernyataan yang disampaikan melalui platform X, MSF menjelaskan bahwa keputusan untuk menutup layanan kesehatan di Lebanon diambil akibat intensitas serangan udara yang semakin meningkat. Tim medis mereka telah berupaya untuk tetap memberikan perawatan kepada pasien, namun kondisi di daerah yang terdampak parah memaksa mereka untuk menghentikan sejumlah kegiatan.
Selain itu, MSF juga menyerukan perlindungan bagi warga sipil serta personel medis yang beroperasi di lapangan. Dalam kesempatan yang sama, organisasi ini mengungkapkan kesedihan atas kehilangan seorang karyawan mereka di Jalur Gaza. Karyawan tersebut, yang bergabung dengan MSF sebagai sopir pada Maret 2023, tidak bisa melanjutkan tugasnya sejak awal konflik dimulai, mengingat dampak dari pertikaian yang sangat merugikan kegiatan operasional MSF di daerah tersebut.
MSF menegaskan bahwa pembunuhan rekan kerja mereka tidak dapat diterima dan menjadi perhatian serius bagi organisasi. Sejak awal bulan Oktober, Israel telah melancarkan operasi darat terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon selatan, disertai dengan serangan udara yang terus berlanjut. Meskipun Hizbullah mengalami beberapa kerugian, kelompok ini tetap aktif melakukan perlawanan terhadap pasukan Israel di daratan serta meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan Lebanon, jumlah korban jiwa di Lebanon akibat serangan Israel telah mencapai lebih dari 2.300 orang sejak terjadinya eskalasi konflik. Israel sendiri menyatakan bahwa tujuan dari serangan tersebut adalah untuk memfasilitasi kembalinya sekitar 60.000 warga yang mengungsi dari bagian utara Israel.
Konflik ini semakin meluas setelah pada 7 Oktober 2023, Israel diserang roket dan dihadapkan pada serangan dari kelompok pejuang Palestina, Hamas, yang memasuki wilayah perbatasan Israel. Selama serangan tersebut, anggota Hamas terlibat dalam baku tembak dengan militer serta menyandera beberapa warga sipil. Laporan resmi dari pihak berwenang Israel menyebutkan bahwa kira-kira 1.200 orang tewas dalam kejadian itu. Sebagai respons, militer Israel melancarkan Operasi Pedang Besi di Jalur Gaza dan memberlakukan blokade total.
Sejak operasi militer dimulai, Kementerian Kesehatan di Gaza melaporkan bahwa jumlah korban meninggal yang diakibatkan oleh serangan Israel telah melampaui 42.200 orang.
ANTARA
MSF Tutup Fasilitas Medis di Lebanon Akibat Serangan Israel
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
BI Kalteng Ingatkan Bahaya Jual Beli Rekening dan QRIS
Kebobolan pada Menit Akhir, Persela Ditahan Imbang De Red FC 2-2
Erick Thohir Berikan Surat Dukungan kepada Presiden FIFA
Gol Pablo Comitre Gagalkan Kemenangan Bali United di Markas Persita
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Pelatih Minta Persebaya Bermain Agresif saat Hadapi Madura United
Komentar (0)
Memuat komentar…







