JAKARTA –
**Borneonews - Washington/New York**, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Senin mendesak semua pihak untuk menghormati keamanan dan keselamatan para penjaga perdamaian PBB yang bertugas di Lebanon. Seruan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di sepanjang Garis Biru, yang merupakan perbatasan de facto antara Israel dan Lebanon. Duta Besar Swiss untuk PBB, Pascale Baeriswyl, menyampaikan bahwa anggota Dewan Keamanan menyatakan keprihatinan yang mendalam setelah beberapa posisi dari Pasukan Sementara PBB di Lebanon (*UNIFIL*) mengalami serangan dalam beberapa hari terakhir. Dalam sebuah pertemuan mengenai situasi di Lebanon, ia menegaskan kembali dukungan yang kuat untuk misi *UNIFIL* dan menggarisbawahi peran penting yang dimainkan oleh para penjaga perdamaian tersebut dalam upaya menjaga stabilitas di kawasan itu. Baeriswyl juga mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terkait jatuhnya korban jiwa di kalangan warga sipil, kerusakan infrastruktur sipil, serta meningkatnya jumlah pengungsi yang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Anggota Dewan Keamanan menekankan pentingnya semua pihak untuk mematuhi hukum humaniter internasional dan menghormati hak asasi manusia. Ditekankan pula bahwa perlu ada upaya diplomatik yang nyata untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan ini, sehingga memungkinkan warga sipil dari kedua belah pihak di Garis Biru dapat kembali ke rumah mereka dengan selamat. Sebagai informasi, minggu lalu, empat anggota *UNIFIL* mengalami cedera akibat serangan Israel yang ditujukan ke pos mereka di Lebanon selatan. Misi *UNIFIL* dibentuk pada tahun 1978 dengan tujuan sebagai pasukan sementara untuk membantu mengembalikan perdamaian di wilayah tersebut serta mengonfirmasi penarikan pasukan Israel dari Lebanon. Sejak tanggal 23 September, Israel telah melakukan serangan udara besar-besaran di Lebanon, yang diklaim sebagai serangan terhadap target-target yang terkait dengan Hizbullah. Akibat serangan tersebut, setidaknya 1.500 orang dilaporkan tewas, lebih dari 4.500 orang mengalami luka-luka, dan sekitar 1,34 juta orang mengungsi. Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi pertempuran lintas batas yang telah berlangsung selama setahun antara Israel dan Hizbullah. Konteks pertempuran ini semakin rumit dengan serangan Israel yang lebih luas di Jalur Gaza, di mana lebih dari 42.300 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, kehilangan nyawa sejak serangan Hamas tahun lalu. Meskipun sejumlah peringatan internasional yang menyatakan bahwa kawasan Timur Tengah berada di ambang perang regional, Israel tetap melanjutkan aktivitas militernya dengan meluncurkan serangan darat ke Lebanon selatan pada 1 Oktober. ANTARA