JAKARTA –
**Borneonews - Washington**, Pemimpin Israel, Benjamin Netanyahu, memberikan jaminan kepada Amerika Serikat bahwa serangan militer yang dilakukan oleh negaranya akan ditujukan hanya pada situs militer Iran. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah percakapan telepon antara Netanyahu dan Presiden Joe Biden pada hari Senin, sebagaimana dilaporkan oleh surat kabar *Washington Post*. Dalam berita tersebut, yang merujuk pada dua pejabat anonim—salah satunya berasal dari AS—dijelaskan bahwa Netanyahu menegaskan komitmennya untuk memfokuskan serangan pada infrastruktur militer Iran dan tidak menyasar fasilitas nuklir atau perminyakan yang merupakan bagian dari larangan yang telah ditetapkan oleh Presiden Biden. Janjinya datang pasca-serangan rudal balistik yang diluncurkan oleh Iran dua minggu sebelumnya. Iran mengklaim serangan tersebut merupakan tindakan balasan atas pembunuhan salah satu pemimpin politik Hamas di Teheran pada bulan Juli lalu, serta kematian pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, di Beirut pada bulan lalu. Tensi antara Israel dan Iran semakin meningkat sepanjang tahun ini. Insiden pengeboman Kedutaan Iran di Suriah pada 1 April menjadi titik balik, yang mengakibatkan tewasnya seorang pejabat militer Iran. Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan dengan menggunakan ratusan *drone* dan rudal balistik ke arah wilayah Israel. Beruntung, sebagian besar serangan tersebut dapat dicegat oleh sistem pertahanan yang dipasang oleh Israel, AS, dan negara sekutu di kawasan tersebut. Rencana balasan dari Israel terhadap serangan yang terjadi pada 1 Oktober lalu semakin mendesak, terutama menjelang pemilihan umum di AS yang akan berlangsung pada 5 November. Salah satu pejabat yang memberikan informasi kepada *Washington Post* menyatakan bahwa Israel berupaya untuk menghindari kesan “intervensi politik dalam pemilihan umum AS.” Hal ini berkaitan dengan potensi serangan terhadap infrastruktur minyak Iran yang dapat memiliki dampak besar pada harga minyak internasional, serta serangan terhadap fasilitas nuklir yang berpotensi meningkatkan ketegangan dramatis dengan Teheran. Meskipun demikian, pejabat tersebut menekankan bahwa Israel berencana untuk melancarkan operasi sebelum pemilihan umum, guna mencegah Iran melihat penundaan sebagai sebuah tanda kelemahan. Ia menjelaskan, “Ini akan menjadi serangkaian balasan.” Pejabat dari AS menjelaskan bahwa selama pembicaraan dengan Biden, Netanyahu menunjukkan sikap yang lebih moderat dibandingkan sebelumnya. Hal ini mungkin memengaruhi keputusan Biden untuk mengirim sistem pertahanan udara *THAAD* ke Israel, lengkap dengan keterlibatan sekitar 100 tentara AS untuk membantu operasional sistem tersebut. Pengumuman dari Pentagon mengenai pengerahan sistem ini dilakukan pada hari Minggu. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pertahanan udara Israel dan juga menunjukkan komitmen yang “kuat” dari Washington untuk menjaga keamanan negara tersebut. Juru bicara militer, Mayor Jenderal Pat Ryder, mengungkapkan bahwa ini adalah bagian dari penyesuaian yang lebih besar yang dilakukan oleh militer AS dalam beberapa bulan terakhir, demi mendukung pertahanan Israel dan melindungi warga Amerika dari serangan Iran serta milisi yang pro-Iran. ANTARA