BANDUNG –
**Borneonews - Majalengka**, Pemerintah Kabupaten Majalengka di Provinsi Jawa Barat tengah mengambil langkah-langkah strategis untuk menurunkan angka stunting di daerah tersebut. Salah satu inisiatif yang dijalankan adalah penempatan petugas gizi di setiap pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Petugas gizi ini memiliki tanggung jawab untuk memantau perkembangan kesehatan anak-anak di setiap kecamatan. Mereka dilibatkan dalam pelaporan intervensi dini yang diperlukan untuk pencegahan stunting, seperti yang dijelaskan oleh Ketua Tim Kerja Kesehatan Keluarga dan Gizi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka, Asri Febriantini. Setiap puskesmas dikatakan telah memiliki antara satu hingga tiga petugas gizi. Tugas utama mereka meliputi penimbangan dan pengukuran balita secara rutin setiap bulan. Selain itu, petugas ini juga berperan aktif dalam menangani faktor-faktor penyebab stunting yang lain, seperti balita yang mengalami masalah kesehatan. Contohnya, jika ditemukan anak yang menderita infeksi *Tuberkulosis* (TB), petugas gizi akan berkonsultasi dengan petugas program TB di puskesmas. Apabila diperlukan, mereka juga dapat merujuk pasien tersebut ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lanjutan. Pemkab Majalengka tidak hanya mengandalkan petugas gizi, tetapi juga telah membentuk tim updater data yang terdiri dari 21 orang. Tim ini bertugas untuk memperbaharui data balita di desa-desa yang menjadi fokus utama penanganan stunting. Asri menekankan bahwa data yang diperoleh nantinya akan dilaporkan ke sistem nasional sebagai dasar untuk pengambilan kebijakan dalam upaya penanganan stunting. Hingga bulan Oktober 2024, progres pelaporan tim updater data telah mencapai 96,29 persen. Hal ini menjadikan Kabupaten Majalengka berada di peringkat ketiga tertinggi di Jawa Barat dalam hal pelaporan data stunting. Menurut Asri, pencapaian ini sangat signifikan, terutama karena tidak ada kendala yang dihadapi dalam pengunggahan data ke sistem. Keberhasilan ini juga diakui berkat dukungan dari camat, kepala desa, dan tenaga puskesmas yang aktif mengawasi pelaksanaan program di lapangan. Sementara itu, Penjabat Bupati Majalengka, Dedi Supandi, melaporkan bahwa angka stunting di daerah ini tercatat sebesar 3,12 persen, yang berarti sekitar 2.465 balita dari total 79.101 balita yang diukur pada tahun 2023 menderita stunting. Dia menyatakan optimisme bahwa angka stunting ini akan terus mengalami penurunan, terutama setelah dilaksanakan Survei Status Gizi Indonesia 2024 di Majalengka. Dedi Supandi mengungkapkan, "Kami optimistis bahwa dengan berbagai upaya terintegrasi ini, target penurunan angka stunting dan peningkatan status gizi masyarakat dapat tercapai dalam waktu dekat.” ANTARA