**Borneonews - Jakarta**, Menteri Investasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, mengemukakan bahwa realisasi investasi di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. Ia menegaskan, komitmen pemerintah dalam pelaksanaan hilirisasi menjadi salah satu aspek penting untuk meningkatkan nilai tambah serta daya saing ekonomi negara.
Rosan menjelaskan bahwa kinerja investasi pada triwulan ketiga tahun 2024 sangat tergantung pada kebijakan hilirisasi yang diterapkan secara konsisten. Pernyataannya tersebut disampaikan di Jakarta, menunjukkan keyakinannya akan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi oleh Bank Dunia akan mencapai kisaran 5,0 persen pada tahun 2024.
Lebih lanjut, Rosan menekankan bahwa hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan investasi karena dapat memperbesar nilai tambah serta menciptakan kesempatan kerja baru. Ia menyatakan, Peran hilirisasi sangat penting dalam memajukan investasi di Indonesia. Dengan hilirisasi, kita dapat memproduksi barang dengan nilai tambah yang lebih tinggi dan membuka peluang kerja di berbagai sektor.
Dalam laporan Kementerian Investasi/BKPM untuk triwulan III tahun 2024, realisasi investasi tercatat sebesar Rp431,48 triliun. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 15,24 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, dengan sektor hilirisasi berkontribusi sebesar Rp91,51 triliun atau 21,2 persen dari total investasi pada triwulan tersebut.
Angka realisasi ini juga berkontribusi pada pencapaian 26,15 persen dari total target investasi untuk tahun 2024. Selain itu, investasi ini berhasil menyerap tenaga kerja Indonesia sebanyak 650.172 orang, yang merupakan indikasi positif terhadap ekonomi.
Rosan juga menjelaskan bahwa realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mengalami peningkatan sebesar 11,62 persen, dari Rp178,20 triliun menjadi Rp198,83 triliun pada triwulan III. Sementara itu, Penanaman Modal Asing (PMA) tumbuh 18,55 persen dari Rp196,20 triliun menjadi Rp232,65 triliun, dengan kontribusi PMA mencapai 53,92 persen dari total investasi.
Adapun lima negara utama yang berinvestasi di Indonesia adalah Singapura dengan nilai investasi sebesar 5,50 miliar dolar AS, diikuti oleh Hong Kong (2,24 miliar dolar AS), Tiongkok (1,86 miliar dolar AS), Malaysia (0,99 miliar dolar AS), dan Amerika Serikat (0,84 miliar dolar AS).
Dilihat dari sektor usaha, investasi terbesar berasal dari sektor Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi yang menyumbang Rp58,04 triliun. Sektor lainnya yang juga memberikan kontribusi signifikan adalah Industri Logam Dasar, Pertambangan, Industri Kimia dan Farmasi, serta Industri Makanan.
Rosan menambahkan bahwa hasil yang kuat pada triwulan III ini juga mencerminkan kinerja positif dari investasi kumulatif sepanjang periode Januari hingga September 2024. Ia optimis Indonesia berada di jalur yang benar untuk memenuhi target investasi pada akhir tahun 2024. Dengan realisasi yang tercatat selama sembilan bulan pertama, ia berharap target tersebut dapat terlampaui.
Sampai saat ini, realisasi investasi sudah mencapai Rp1.261 triliun, mengalami peningkatan hampir 20 persen year on year. Target akhir tahun sebesar Rp1.650 triliun sudah tercapai 76,4 persen, dan bahkan jika kita melihat target Rencana Strategis, sudah melebihi, ujar Rosan.
Sektor hilirisasi juga berperan penting, dengan kontribusi mencapai Rp272,91 triliun atau 21,6 persen dari total investasi di periode yang sama. Investasi di luar Jawa sebesar Rp635 triliun, berkontribusi 50,34 persen, dan mengalami peningkatan 16,34 persen dibandingkan Rp545,81 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Lebih jauh, Rosan menjelaskan bahwa selama 10 tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo, realisasi investasi mencapai Rp9.117,4 trilun dan penyerapan tenaga kerja menyentuh angka 13.836.775 orang. Capaian tersebut melampaui target Rencana Strategis Kementerian Investasi/BKPM sejak tahun 2021, menandakan keberhasilan dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Selama dekade terakhir, stabilitas ekonomi dan politik di Indonesia telah meningkatkan kepercayaan investor untuk berinvestasi. Investment merupakan komitmen jangka panjang yang membutuhkan stabilitas, ungkap Rosan.
Sektor manufaktur, lanjutnya, terus menjadi pilar penting dalam pertumbuhan ekonomi. Tercatat, sektor ini telah menunjukkan perkembangan signifikan dalam sepuluh tahun terakhir, yang membuktikan bahwa manufaktur berperan strategis sebagai pendorong perekonomian nasional. Fokus ke depan adalah memperkuat sektor ini agar kontribusinya semakin meningkat baik dalam investasi maupun penciptaan lapangan kerja.
Pertumbuhan sektor manufaktur mencapai 15,5 persen dalam satu dekade terakhir. Sektor ini membutuhkan dorongan lebih lanjut untuk terus tumbuh, tutup Rosan.
ANTARA
Pertumbuhan Investasi Indonesia Didukung Kebijakan Hilirisasi
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
SMAN 1 Hanau Terima Tambahan Tiga TV Interaktif
Mobil Oksigen Gratis Palangka Raya Layani 289 Pemanfaatan hingga 24 Oktober
Faktor Kelembapan Tinggi Picu Hujan di Palangka Raya Senin Dini Hari
Hotspot Kalteng Turun Selama 4 Hari Terakhir, Tapi Karhutla Harian Bertahan di Kisaran 58 Kejadian
PSI Barito Timur Turun ke Jalan, Bantu Warga Hadapi Kabut Asap Karhutla
Pemko Tidak Kewalahan Tangani Karhutla, Fokus Hadapi Kondisi di Lapangan
Komentar (0)
Memuat komentar…







