DENPASAR –
**Borneonews - Nusa Dua, Bali**, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah menetapkan digitalisasi sebagai langkah strategis untuk meningkatkan mutu pendidikan di kampus-kampus yang tersebar di seluruh Indonesia. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi, Abdul Haris, menekankan pentingnya omnilisasi pendidikan tinggi dengan pendekatan digital dalam sambutannya di acara *Education USA* yang digelar di Nusa Dua, Kabupaten Badung. Abdul Haris memaparkan bahwa kualitas dari pendidikan tinggi di Indonesia sangat berkaitan dengan proses akreditasi. Namun, ia juga mencatat, dari total 4.356 institusi pendidikan tinggi yang ada, masih terdapat 1.501 universitas yang belum mendapatkan akreditasi. Hal ini menunjukkan adanya tantangan yang harus dihadapi untuk meningkatkan reputasi pendidikan tinggi di negara ini. Dari ribuan institusi tersebut, tercatat sekitar 9,8 juta mahasiswa terdaftar dan didukung oleh 338 ribu dosen serta 32 ribu program studi yang aktif di seluruh Indonesia. Menariknya, hanya lima universitas di negara ini yang berhasil masuk dalam daftar 500 universitas terbaik di dunia, yang menunjukkan perlunya upaya lebih lanjut dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Abdul menegaskan bahwa kualitas pendidikan tinggi merupakan salah satu dari tiga isu utama yang dihadapi, selain aksesibilitas pendidikan dan kemampuan lulusan untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Untuk isu aksesibilitas bagi pelajar dengan disabilitas, hanya 2,8 persen dari mereka yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi. Sementara itu, setiap tahunnya, perguruan tinggi di Indonesia meluluskan sekitar satu juta mahasiswa, namun banyak di antara mereka yang terpaksa menganggur. Data menunjukkan bahwa sekitar 80 persen lulusan perguruan tinggi bekerja di sektor yang tidak relevan dengan bidang studi mereka. Menghadapi tantangan ini, pemerintah telah memperkenalkan Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sebagai upaya untuk meningkatkan relevansi dan kualitas pendidikan. Abdul Haris juga mengungkapkan bahwa setiap tahunnya, lebih dari 2.000 sarjana strata satu dikirim ke luar negeri, dengan sekitar 50 persen di antaranya menuju Amerika Serikat. Selain itu, Kemendikbudristek berusaha untuk menghumanisasi teknologi dalam pendidikan, dengan mengembangkan Sistem Pembelajaran Daring (Spada) Indonesia yang bertujuan untuk mengatasi berbagai keterbatasan yang ada pada institusi pendidikan tinggi. "Spada Indonesia telah menjalin kerja sama dengan Institut Pendidikan Siber Indonesia, untuk memberikan akses kepada pembelajaran berkualitas dari universitas serta institusi ternama di seluruh dunia," pungkas Abdul Haris. ANTARA