BORNEONEWS, Nanga Bulik - Kakek Alif , 63, warga Desa Wonorejo, RT 06, RW 02, Kecamatan Sematu Jaya, Kabupaten Lamandau yang ditemukan dalam keadaan leher terlilit kain sarung dan tergantung di pelepah pohon sawit, ternyata semasa hidupnya tinggal di Gubuk Reyot.

Gubuk itu terbuat dari bambu dan kayu yang atapkan seng serta beberapa bagian dindingnya dilapisi karung beras terpal. Lokasi gubuk sekitar 100 meter dari tempat ia ditemukan tergantung, pada Rabu (8/2016) sekitar 08.30 WIB.

Warga setempat pada dasarnya cukup mengenal kakek paruh baya itu. Terlebih, kakek Alif sudah tinggal di daerah tersebut dalam waktu yang cukup lama, kurang lebih tiga tahun terakhir. Ia tinggal di gubuk reyot.

Jika diukur, tempat tinggalnya tersebut berukuran tak lebih 1,5 x 2 meter, dengan satu pintu di bagian depan sebelah kiri. Jika dilihat dari luar, gubuk tersebut tak akan ada yang mengira jika bangunan itu ditempati orang. Karena seklas, bangunan dengan tinggi tak mencapai dua meter itu tak ubahnya kandang ayam. Siapapun yang masuk, akan merasa pengap dan sangat sulit bergerak.

Beberapa warga sekitar yang jarak tempat tinggalnya berkisar beberapa ratus meter dari rumah Almarhum Kakek Alif, banyak mengenal kakek Alif sebagi pribadi/orang tua yang baik dan pekerja keras. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, kakek Alif bahkan sering ikut berladang atau bertani ke di kebun orang untuk sekadar bantu-bantu.

Namun di lain sisi, warga setempat juga mengetahui sang kakek sudah cukup lama menderita sakit cukup parah, yakni penyakit liver dan beberapa penyakit lain, Karenanya, tak jarang jika warga setempat sering membantu dirinya. Yang pada akhirnya (hasil penelusuran Satreskrim Polres) diketahui bahwa yang bersangkutan melalui rekam medik rumah sakit diketahui tengah mengidap penyakit hepatitis dan Koleksitis Akut.

"Untuk sehari-harinya, kalau sedang sehat dia biasa terlihat seperti masyarakat pada umumnya. Sering juga main atau sekedar lewat di perkampungan. Bahkan suka ikut bertani atau berladang, ya sekedar bantu-bantu gitu," tutur seorang warga setempat, Nini Suwarni.

Ia dan sejumlah warga setempat juga mengaku sudah tahu bahwa kakek Alif ini sering sakit. Namun, kata dia, kondisi sakitnya kalau masyarakat tahunya, ya sekadar sakit biasa orang yang sudah berumur.

Namun di sisi lain, umumnya mengetahui bahwa kakek tersebut tinggal sebatangkara dan tidak memiliki sanak saudara, sehingga sering kali warga juga turut membantu memberi makan atau saling berbagi rezeki.

"Kita kebanyakan gak tahu asal kakek ini, hanya tahu sudah sekitar tiga tahunan tinggal dan bermasyarakat di sini. Kita juga tidak tahu bahwa almarhum punya keluarga, kerabat atau tidak. Karena selama ini dia hanya tinggal sendiri," tutur seorang warga lainnya. (HENDI NURFALAH/m)