TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Sanggar Komunitas Anak Dayak Maanyan (Komandan) dari Kabupaten Barito Timur, tampil apik di panggung Galeri Indonesia Kaya, West Mall lantai 8, Grand Indonesia, Jakarta, pada Minggu, 13 Oktober 2024. Pementasan karya tari berjudul Gemerincing Galang yang merupakan bagian dari perayaan ulang tahun ke-11 Galeri Indonesia Kaya yang digagas oleh Bakti Budaya Djarum Foundation itu, mendapatkan banyak pujian.

"Sanggar Komandan yang menampilkan Gemerincing Galang menurutku seru, apik aja gitu, gerakan yang dibawakan nyatu banget sama musiknya," ujar Lisa Nurholiza, salah satu anggota Tim Galeri Indonesia Kaya saat diwawancarai, Jumat, 18 Oktober 2024.

Dia menambahkan, gerakan penari Sanggar Komandan yang kompak juga menciptakan bunyi suara gelang yang nyaring dan bernada walaupun di beberapa adegan, gerak dan bunyinya dibuat abstrak.

"Lantunan kidung yang dibawain sama penari juga bikin kita ngerasa kayak ada di Kalimantan, video yang ditampilkan di akhir juga bikin penonton tahu bahwa tarian ini bukan sekedar tarian biasa, tapi ada makna adat di baliknya," imbuh Lisa lewat pesan Whatsapp.

Ressa Rizky Mutiara Hadi, salah satu mentor tari dari Jakarta, juga memberikan apresiasinya atas penampilan Sanggar Komandan di Grand Indonesia. Menurutnya, Gemerincing Galang adalah pertunjukan tari yang menonjolkan harmoni yang kuat antara tradisi dan inovasi kontemporer.

--page

"Dalam karya tersebut, gerakan tarinya menunjukkan penghargaan mendalam terhadap tradisi Dayak Ma’anyan, sembari membawa kesegaran melalui elemen-elemen modern," ujarnya.

Hal ini memberikan ruang bagi budaya untuk terus hidup dan berkembang di tengah tantangan zaman, sekaligus menjaga identitas dan nilai-nilai spiritual yang ada di dalamnya.

"Kombinasi antara gerakan tradisional dengan komposisi modern memperkuat daya tarik pertunjukan ini, menjadikannya jembatan antara generasi lama dan baru. Inovasi ini membuat seni tari tetap relevan dan menarik bagi audiens yang lebih muda, sambil tetap menghormati esensi asli dari warisan budaya lokal," lanjut Ressa.

Koreografer dari Sanggar Komandan, Putri Wunge Ngindra, mengaku pementasan Gemerincing Galang berjalan dengan baik dan lancar tanpa hambatan apapun sehingga menyajikan tontonan yang memukau banyak orang.

"Antusiasme penonton luar biasa baik, banyak yang memberikan apresiasi tepuk tangan hingga liputan media setempat, bahkan ada yang menghampiri kami sambil bersalaman dan menangis karena ingat akan kampung halaman, kebetulan di antara penonton ada orang Dayak Maanyan yang merantau di Jakarta," katanya.

Putri menuturkan, para penari merasa senang dan bangga karena dapat menyajikan penampilan terbaik tari gelang dadas dan gelang bawo yang merupakan simbol identitas budaya Dayak Maanyan dari Barito Timur. 

"Gak nyangka aja bahwa Tuhan izinkan kami berproses dari nol hingga bisa sampai memperkenalkan budaya kita ke kancah nasional melalui Galeri Indonesia Kaya," ucapnya.

Dari pementasan tersebut Sanggar Komandan mendapatkan kesempatan untuk belajar banyak hal baru dari Galeri Indonesia Kaya seperti manajemen pertunjukan, penataan panggung dan lain sebagainya.

--page

"Di even ini kami juga jadi bisa saling tukar cerita dan pendapat dengan beberapa seniman lainnya dari luar Kalimantan. Ini membuat ilmu dan wawasan kami semua bertambah," tutur Putri.

Dia berharap pementasan itu bukan menjadi akhir pencapaian, namun Sanggar Komandan terus berkarya untuk mengembangkan minat dan bakat serta mengharumkan nama daerah dan kebudayaan kita Dayak Maanyan di manapun mereka tampil.

"Kami juga berharap apa yang telah kami lalui ini dapat menjadi motivasi yang positif bagi kawan-kawan seniman lainnya di Barito Timur, karena untuk dapat berkembang tidak hanya melalui satu cara saja, masih banyak jalan lainnya asal kita tetap konsisten berkarya dan berkesenian dengan jujur dan tulus. Amun puang takam hie lagi, kalau bukan kita siapa lagi," tandas Putri. (AGUSTINUS BOLE MALO/Y)