TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Di Desa Bentot, Kecamatan Patangkep Tutui, Kabupaten Barito Timur, seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) bernama Karnando mulai menanam jagung manis di lahan seluas satu hektare yang siap memenuhi kebutuhan pasar. 

Sebagai PPL, dia tak hanya memberikan teori dan nasihat kepada petani, tetapi juga turun langsung menjadi contoh nyata bagi masyarakat.

Di desa yang berjarak sekitar 31 kilometer dari Kota Tamiang Layang itu, Karnando menunjukkan semangat berkarya dari lahan pertanian sederhana.

Dengan tangan yang kerap kotor oleh tanah, Karnando sendiri membudidayakan tanaman pangan. Kini, dia tengah menanam jagung manis di atas lahan seluas satu hektare, berharap panen pada akhir Desember nanti, tepat di saat permintaan jagung melonjak menjelang perayaan Tahun Baru.

"Saya tanam perdana jagung manis ini bersama PPL yang lain sebagai contoh untuk warga. Mereka bisa melihat dan ikut membudidayakan jagung atau tanaman pangan lainnya. Target panen mulai 25 Desember, untuk memenuhi permintaan pasar pada perayaan natal dan tahun baru," ujar Karnando.

Bagi masyarakat di Desa Bentot, jagung dan tanaman pangan lainnya bukanlah tanaman utama. Mereka lebih terbiasa mengandalkan karet sebagai tumpuan hidup. Namun, Karnando berusaha membuka mata mereka akan peluang lain. 

Dengan panen yang diperkirakan mencapai 15.000 pohon, Karnando memproyeksikan hasil jagungnya bisa terjual dengan harga Rp2.000 hingga Rp3.000 per buah dan meraih omset paling kurang Rp25 juta. Pasar di Kabupaten Tabalong bahkan sudah siap menampung hasil panennya.

"Setiap malam tahun baru, permintaan jagung selalu meningkat, tetapi stok sering kali kurang. Ini menjadi peluang besar," jelasnya penuh semangat.

Karnando menjadikan ladang jagungnya sebagai laboratorium hidup. Lahan ini akan menjadi tempat belajar bagi masyarakat setempat, yang mulai tertarik mencoba budidaya tanaman pangan.

Dia mengungkapkan, meski masih mengutamakan tanaman karet, perlahan-lahan beberapa warga memulai langkah kecil, menanam sayuran untuk kebutuhan keluarga.

"Tantangan terbesarnya memang membuat masyarakat tertarik mencoba. Namun, setelah mereka lihat hasilnya, mulai ada yang menanam meskipun dalam skala kecil," tutur Karnando.

Di balik itu, Karnando yang dalam waktu dekat berencana menanam terong ungu varietas Yumy, berharap budidaya jagung dan tanaman pangan lainnya bisa menjadi bagian dari upaya Barito Timur untuk mempersiapkan diri sebagai daerah penyangga pangan Ibu Kota Nusantara (IKN). 

Karena itu dia menyampaikan harapannya agar pemerintah daerah menyediakan lebih banyak bantuan alat mesin pertanian bagi kelompok tani agar proses pengolahan lahan menjadi lebih efisien dan terjangkau.

"Jika ada dukungan yang lebih besar, tidak hanya saya, tetapi banyak petani lain bisa ikut serta dalam gerakan ini. Kita bisa menciptakan lapangan kerja baru dan mempersiapkan Barito Timur sebagai penyangga pangan IKN," pungkas Karnando.(AGUSTINUS BOLE MALO/R)