TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Di tengah panggung Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kabupaten Barito Timur, pada 16 Oktober 2024 lalu, seorang bocah dengan tubuh mungil dan penuh percaya diri berdiri memegang mikrofon. Dia adalah Albert Dirga Gevariel atau akrab disapa Ega, komika termuda yang tampil pada ajang stand up comedy di festival itu.

Meski baru berusia delapan tahun dan duduk di kelas II SD, Ega berhasil memikat hati penonton dengan leluconnya yang dibawakan dalam bahasa Dayak Maanyan.

Hari itu adalah pertama kalinya Ega tampil di depan banyak orang. Namun, rasa gugup seolah tak mengenal dirinya. Di balik senyum kecil dan sorotan matanya yang berbinar, Ega membawakan monolog ringan tentang keseharian di sekolah dan pergaulan dengan teman-temannya, membuat penonton tertawa lepas. 

Beberapa meter di depan panggung, Desy Apriati, guru pembimbing Ega, menyaksikan penampilan murid kebanggaannya dengan penuh haru sambil merekam dengan kamera ponsel.

“Penampilan Ega sangat menarik. Meskipun ada insiden lampu padam, dia tetap tenang dan melanjutkan komedinya tanpa ragu,” kenang Desy dengan bangga, Minggu, 20 Oktober 2024.

Ega yang tampak luwes di atas panggung ternyata telah melalui proses latihan yang disiplin selama dua minggu, dibantu oleh para guru dan orang tua.

Perjalanan Ega menuju FTBI dimulai dari dukungan penuh kepala sekolah SD Negeri Betang Nalong, Gakarianto, yang melihat potensi besar dalam diri Ega. Pada akhir September 2024, sekolah menerima undangan untuk mengikuti FTBI tingkat kabupaten. Dengan cepat, Ega dipilih untuk mewakili Kecamatan Patangkep Tutui di cabang lomba stand up comedy.

Latihan demi latihan dijalani Ega dengan penuh semangat. Ia berlatih tidak hanya di sekolah sebelum jam belajar dan waktu istirahat, tetapi juga di rumah bersama orang tuanya. Pihak sekolah membantu Ega dalam menyiapkan materi yang sesuai dengan kesehariannya sebagai seorang anak berusia delapan tahun. Komedi yang ia bawakan mengangkat kebiasaan sehari-hari di lingkungannya.

Menurut guru pembimbingnya, Ega bukan hanya seorang anak yang pandai melucu. Di balik sosok cerianya, ia dikenal sebagai murid yang berprestasi di bidang akademik. Peringkat pertama di kelas selalu diraihnya, dengan kemampuan memahami pelajaran yang cepat. 

Ia juga sangat disukai teman-temannya karena sifatnya yang mudah bergaul dan kerap menghabiskan waktu bermain sepak bola di sore hari di desanya, Betang Nalong.

“Ega memang anak yang spesial. Selain pintar di kelas, dia sangat ramah. Setiap kali bertemu dengan guru, dia selalu menyapa lebih dulu dan suka berbagi cerita tentang kegiatan sehari-harinya,” ujar Desy. Tidak hanya akademik dan bakat komedi, sikap sopan dan rasa hormatnya kepada orang lain membuat Ega disukai banyak orang.

Penampilannya di FTBI yang membuatnya meraih Juara II adalah bukti bahwa usia bukanlah penghalang untuk bersinar. Ega, dengan segala bakat dan potensi yang ia miliki, telah membuka jalan untuk masa depan yang lebih cerah. Di usianya yang masih belia, ia tidak hanya menjadi kebanggaan sekolah dan desanya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi anak-anak lain untuk terus berani bermimpi dan berkarya. (AGUSTINUS BOLE MALO/J)