BORNEONEWS, Palangka Raya - Pulau Salat yang berada di wilayah Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, telah menjadi pusat perhatian dalam upaya konservasi orangutan. Pulau ini berfungsi sebagai sekolah bagi orangutan sebelum mereka dilepasliarkan ke habitat aslinya. Program ini dikelola oleh Yayasan Borneo Orangutan Survival atau BOSF bekerja sama dengan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS sejak tahun 2015.
Pulau Salat terdiri dari dua bagian utama, yaitu Pulau Badak Besar dan Pulau Badak Kecil, dengan luas lebih dari 2.000 hektar. Area ini dipilih karena menyediakan sumber pakan alami yang memadai dan lingkungan yang aman bagi orangutan untuk mengasah keterampilan bertahan hidup mereka.
"Proses rehabilitasi orangutan di Pulau Salat dimulai dengan penyelamatan dan perawatan awal," kata BMP Specialist BOSF, E Prasetyo kepada Borneonews.
Orangutan yang diselamatkan akan menjalani berbagai tahapan rehabilitasi, termasuk sekolah hutan, mereka belajar keterampilan dasar seperti mencari makanan dan membuat sarang. Setelah lulus dari sekolah hutan, mereka akan dipindahkan ke Pulau Salat untuk tahap pra-pelepasliaran.
"Di Pulau Salat, orangutan akan menjalani masa 'magang' sehingga mereka bisa mempraktikkan keterampilan yang telah dipelajari di sekolah hutan," jelas Tyo, sapaan akrabnya.
--page
Para orangutan akan diawasi oleh teknisi yang berdedikasi untuk memastikan mereka siap untuk dilepasliarkan ke hutan yang sebenarnya. Kontak dengan manusia diminimalkan untuk memastikan orangutan dapat beradaptasi dengan lingkungan alami mereka.
Salah satu penghuni terbaru Pulau Salat baru dilepasliarkan di bulan Oktober ini dan bergabung dengan sekitar 40 orangutan lainnya di pulau ini. Seperti orangutan lainnya, individu orangutan yang baru ini juga akan menjalani proses rehabilitasi yang memakan waktu antara tujuh hingga sepuluh tahun sebelum siap dilepasliarkan.
"Pulau Salat tidak hanya berfungsi sebagai tempat rehabilitasi, tetapi juga sebagai pusat penelitian dan pendidikan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya konservasi orangutan dan habitat mereka," terangnya.
Selain itu, lanjutnya, program ini juga mendukung produksi minyak kelapa sawit yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Kerja sama antara BOSF dan PT SSMS dalam mengelola Pulau Salat menunjukkan komitmen kedua organisasi dalam melestarikan orangutan dan lingkungan mereka.
--page
"PT SSMS telah membeli sebagian lahan di Pulau Salat untuk digunakan sebagai lahan rehabilitasi dan pra-pelepasliaran orangutan sebagai bagian dari inisiatif Remediasi dan Kompensasi RSPO atau RaCP," kata Head of Sustainability SSMS, Henky Satrio Wibowo.
Program rehabilitasi di Pulau Salat juga melibatkan masyarakat lokal. Masyarakat dilibatkan dalam berbagai kegiatan konservasi, termasuk pemantauan kondisi dan perilaku harian orangutan.
"Hal ini tidak hanya membantu dalam pelestarian orangutan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat," kata Henky.
Pulau Salat telah menjadi contoh sukses dalam upaya konservasi orangutan di Indonesia. Dengan lingkungan yang mendukung dan program rehabilitasi yang komprehensif, pulau ini memberikan harapan baru bagi masa depan orangutan Kalimantan.
Keberhasilan program ini juga menunjukkan pentingnya kerja sama antara berbagai pihak dalam upaya konservasi. Dengan dukungan dari pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan sektor swasta, upaya pelestarian orangutan dapat terus berlanjut dan berkembang.
"Dengan terus berjalannya program rehabilitasi di Pulau Salat, diharapkan lebih banyak orangutan yang dapat kembali ke habitat alami mereka dan populasi orangutan di Kalimantan dapat pulih. Pulau Salat akan terus menjadi tempat yang penting dalam upaya pelestarian orangutan di Indonesia," tutur Henky. (TESTI PRISCILLA/Y)









