BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam upaya mendukung industri batik yang lebih ramah lingkungan dan halal, Kementerian Perindustrian atau Kemenperin bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS mengadakan workshop di Pacitan, Jawa Timur.
Acara ini berlangsung dari tanggal 21 hingga 24 Oktober 2024 dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan.
Workshop ini fokus pada penggunaan stearin, produk turunan kelapa sawit, sebagai bahan baku malam batik pengganti parafin. Stearin ini telah mendapatkan paten sederhana pada tahun 2017 dan diharapkan dapat menjadi alternatif yang lebih aman dan halal bagi industri batik.
Aan Eddy Antana, Ketua Tim Kerja Pengembangan Jasa Industri BBSPJIKB, menyampaikan bahwa penggunaan stearin dari kelapa sawit dapat mengurangi ketergantungan pada parafin impor dan bahan baku lainnya yang tidak terjamin kehalalannya.
"Kami ingin memastikan bahwa produk batik yang dihasilkan tidak hanya berkualitas, tetapi juga halal," kata Aan dalam rilis BPDPKS pada Kamis, 24 Oktober 2024.
Kabupaten Pacitan dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki luas perkebunan kelapa sawit yang signifikan dan dikelola oleh petani swadaya. Dengan adanya workshop ini, diharapkan para petani dapat memanfaatkan stearin sebagai bahan baku yang bernilai tambah tinggi.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya diversifikasi produk turunan sawit. Dengan demikian, kelapa sawit tidak hanya digunakan untuk industri pangan dan energi, tetapi juga dapat dimanfaatkan dalam industri kreatif seperti batik.
Diketahui bahwa dari skema tersebut diajarkan dan diujikan 5 (lima) unit kompetensi yang terdiri dari penyusunan rencana kerja, pemilahan limbah, pengolahan malam bekas, pembuatan malam batik dan pengujian kelenturan malam.
Kepala Divisi UKMK BPDPKS, Helmi Muhansah menyampaikan bahwa dukungan BPDPKS terhadap kegiatan ini sebagai upaya meningkatkan penggunaan produk turunan kelapa sawit di dalam negeri, sekaligus wujud nyata manfaat produk kelapa sawit dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
"Melalui kegiatan ini kami harapkan dapat disampaikan kebaikan-kebaikan kelapa sawit bagi masyarakat sebagai komoditas strategis Indonesia," kata Helmi.
Pada kesempatan tersebut juga diserahkan sertifikat halal batik kepada Sri Nasifah dari Jayanti Batik, Patemi dari Batik Mekar Sejati, Evi Wahyu Astutik dari Griya Batik Sengguruh, Astutik Ningtias dari Batik Wagastu, Muthmainah dari Batik Muthidea, Rahmi Masita Prihatiningtias dari Batik Organic by Yagasu, Elok Evi Nurul aini dari Batik Mojo dan Sri Widjayati dari Batik Bambu Kenanga.
Selain perwakilan dari Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB), turut hadir, Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perindustrian Kabupaten Pacitan, Prayitno, Kepala Divisi UKMK BPDPKS, Helmi Muhansah didampingi Anwar Sadat, Analis Senior BPDPKS, Pembina Industri Ahli Muda Bidang Pemberdayaan Industri Sub Koordinator Pembinaan Industri Hijau Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, Ira Yuni Pantiwardhani dan Pembina Industri Ahli Muda BBSPJIKB, Ratri Yuli Lestari.
"Di samping untuk mendorong industri batik dalam memanfaatkan potensi produk perkebunan kelapa sawit, kegiatan ini juga sebagai langkah strategis kampanye positif wujud keberpihakan Pemerintah Indonesia pada industri kelapa sawit nusantara yang masih mendapatkan serangan negatif dari berbagai pihak, agar citra industri ini kembali positif di dalam maupun luar negeri," jelas Helmi lagi.(TESTI PRISCILLA/H)









