BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat dalam waktu dekat segera mengusulkan Harga Eceran Tertinggi (HET) gas elpiji bersubsidi tiga kilogram. Untuk saat ini, pemkab terus melakukan koordinasi dengan Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) dan sejumlah penyalur atau agen gas elpiji tiga kilogram (kg) melalui rapat internal.
“Sesuai ketentuan bupati hanya mengusulkan HET elpiji 3 kg, sedangkan yang menetapkan adalah gubernur,” kata Asisten II Setda Kotim Halikinnor, Jumat (2/9/2016).
Menurutnya, hasil rapat tersebut sudah ada konsep besaran harga elpiji 3 kg menyesuaikan dengan pangkalan yang ada di sejumlah kecamatan. Hanya saja belum bisa diputuskan karena dari pihak Hiswana Migas meminta waktu untuk menyampaikan perhitungan harga eceran dari mereka.
“Mereka (Hiswana Migas) juga menghitung-menghitung. Makanya kami minta draft dari mereka disampaikan ke Bagian Ekonomi paling lambat Senin (5/9/2016) nanti,” ucap dia.
Halikin menjelaskan, pihaknya tidak bisa serta merta menetapkan usulan HET elpiji 3 kg tanpa memperhatikan usulan dari pihak pengusaha dan penyalur. Sebab, apabila apabila perhitungan hanya dari pemkab otomatis diupayakan menekan biaya serendah mungkin.
“Perhitungan Hiswana Migas dan penyalur maupun agen menjadi salah satu pertimbangan. Mereka kan juga memperhitungkan margin, jarak, dan biaya ekonomi. Pemkab akan mengambil yang terbaik, supaya mereka tidak dirugikan dan masyarakat juga tidak dibebani dengan harga yang tinggi,” jelas dia.
Seperti diketahui, distribusi gas elpiji dari Pertamina melalui beberapa tingkatan. Diawali di tingkat agen, selanjutnya didistribusikan ke pangkalan untuk kemudian dijual ke konsumen. Di tingkat pangkalan inilah selama ini lazim dijumpai penjualan gas elpiji melalui pengecer bahkan ditambah munculnya sub pengecer. Bertambahkan rentang distribusi tersebut kerap menjadikan harga elpiji melambung tinggi.
“Harapan kami kalau sudah ada HET gas elpiji 3 kg untuk wilayah Kotim ditetapkan semua menaatinya. Jangan sampai ada penyimpangan di lapangan, walaupun potensi penyimpangan gas elpiji ini lebih rendah dari minyak tanah,” kata Halikin. (RAFIUDIN/m)








