BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Tanaman hutan yang bentuk daunnya menyerupai pohon cemara yang dikenal masyarakat Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), terutama masyarakat pesisir Kumai dengan sebutan tanaman Ujung Atap, saat ini menjadi primadona baru warga pesisir.

Tanaman yang banyak terdapat di hutan dan pinggiran jalan poros pesisir ini dimanfaatkan masyarakat untuk dijual sebagai tambahan pendapatan warga. Tanaman yang dikenal di Indonesia dengan nama Jung Rahab (Baeckea frutescens), merupakan tanaman semak-semak berkayu yang mencapai tinggi 4-6 meter. 

Muhammad Anwar, seorang warga Desa Keraya menjelaskan, tanaman Ujung Atap dulunya tidak pernah dimanfaatkan masyarakat. Namun setelah ada pengepul dari Kecamatan Kumai yang datang dan membeli tanaman liar tersebut maka saat ini warga sudah ada yang membudidayakan termasuk dirinya.

Menurut Anwar, tanaman tersebut yang dapat dijual adalah daunnya. Namun daun yang bisa dijual adalah daun Ujung Atap yang sudah melalui proses pengeringan. Daun ujung atap kering dihargai oleh pengepul perkilogramnya Rp3.300 per kilogram. 

Bukan hanya dirinya, warga lain pun saat ini membudidayakan tanaman itu dalam satu hektar lahan dengan sistem tanam tinggal tanpa pemeliharaan. Dalam satu hektar lahan yang ditanami Ujung Atap warga mampu panen sebanyak tiga ton. Walau hanya panen setahun satu kali budidaya ujung atap dianggap warga Desa Keraya yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan tangkap mampu menjadi solusi mengatasi kesulitan warga saat memasuki masa paceklik di bulan Mei hingga Juli.

"Kalau masa paceklik tiba terutama musim pancaroba maka kita masih mempunyai penghasilan dari tanaman ujung atap," kata Anwar.

Namun sayangnya, pemerintah daerah melalui Dinas Kehutanan (Dishut) belum memberikan perhatian terhadap masyarakat dalam bentuk pembinaan. Pasalnya, warga melalui kelompok tani sudah mengajukan usulan ke Dishut untuk dibantu pengadaan bibit dan pembinaan. Tetapi oleh Dishut warga diminta untuk menyediakan lahan dengan satu hamparan. Karena keterbatas lahan yang dimiliki masyarakat terbatas maka permintaan Dishut tidak bisa dilaksanakan warga.

"Kita tidak punya lahan satu hamparan, lahan warga terpisah-pisah, padahal prospeknya sangat bagus dalam satu hektar bisa menghasilkan sekitar Rp9 juta lebih sekali panen," keluh Anwar.

Kata Anwar, saat ini permintaan daun ujung atap sedang tinggi-tingginya, berapapun jumlah tanaman tersebut pengepul akan membelinya. Karena perusahaan Jamu Sido Muncul membutuhkan banyak bahan baku ujung atap untuk jamu.

"Sido Muncul akan ambil berapapun banyaknya daun ujung atap, kita kewalahan memenuhi permintaan," ujar Anwar.

Sementara itu, Sekretaris Desa Keraya, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Sadran mengakui bahwa tanaman Ujung Atap mempunyai nilai ekonomis tinggi dan bisa menjadi ekonomi alternatif bagi warga Desa Keraya yang selama ini dalam bekerja tergantung musim.

Apalagi tanaman ujung atap dalam membudidayakan termasuk tidak sulit dan tidak membutuhkan perawatan dan pupuk. Walau pun hanya panen satu tahun sekali dengan diambil daunnya, tanaman ini hanya sekali tanam sementara hasilnya bisa dinikmati saban tahun.

"Saat masa paceklik melaut karena cuaca kan tanaman ini bisa menjadi alternatif untuk menutupi kebutuhan masyarakat," tutur Sadran.

Ia pun mengharapkan agar pemerintah daerah melalui Dinas Kehutanan dapat melakukan pembinaan dan memberikan bantuan terhadap budidaya tanaman Ujung Atap ini. Apalagi masyarakat pesisir dari Desa Kubu hingga Keraya banyak yang memanfaatkan tanaman ini untuk menambah pendapatan keluarga.

"Pemerintah dapat kiranya mensuport warga dalam bentuk pembinaan," pinta Sadran. (KOKO SULISTYO/m)