BORNEONEWS, Tamiang Layang - Di SD Katolik Trinitas Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, murid-murid dengan ceria mengumpulkan sampah plastik dan memilahnya sesuai jenis.
Kesadaran anak-anak ini tidak lepas dari peran Gusti Wirdaningsih, sosok yang mengelola Bank Sampah Mentari. Selain memilah sampah, para siswa SD Trinitas juga belajar mencintai lingkungan dan menjadi bagian dari solusi lingkungan sejak dini.
Gusti tidak hanya menjalankan misi sosial dalam pengelolaan sampah rumah tangga, sekolah dan perkantoran. Dengan kerja sama berbagai sekolah dasar (SD) di Barito Timur, ia merintis jalan bagi anak-anak untuk mengenal arti penting menjaga lingkungan melalui pelatihan pengelolaan sampah.
Di sekolah itu anak-anak diajari memilah sampah anorganik, membuat ecobrick – botol plastik yang diisi padat dengan sampah plastik sebagai bahan konstruksi ramah lingkungan, dan ecoenzyme – cairan fermentasi yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk menyemprot daun-daun kering untuk mempercepat penguraian.
Mereka juga berkesempatan mengunjungi Bank Sampah Mentari agar memahami betul cara pengelolaan sampah.
“Semua pelatihan ini gratis. Kami ingin memberikan bekal sejak dini, bahwa menjaga lingkungan itu tanggung jawab kita bersama,” ungkap Gusti yang turun langsung sebagai instruktur setiap kali pelatihan, Jumat, 1 November 2024.
Baginya, pendidikan lingkungan harus dimulai sejak dini, sehingga kelak anak-anak ini memiliki karakter yang tidak hanya peduli pada kebersihan sekitar, tetapi juga memiliki keterampilan memanfaatkan sampah.
Bank Sampah Mentari juga punya keistimewaan lain yang menginspirasi sejumlah sekolah lain di Barito Timur. Gusti menawarkan cara unik untuk menyimpan “harta” dari sampah.
Sampah anorganik yang sudah terkumpul bisa diuangkan. Sekolah-sekolah bisa memilih untuk menabung sampah di Bank Sampah Mentari, dengan buku tabungan khusus yang dimiliki setiap sekolah, atau menerima hasil penjualan dalam bentuk uang tunai.
Dengan cara itu, anak-anak dan sekolah tidak hanya belajar menjaga lingkungan, tetapi juga mengenal konsep ekonomi sirkular, bahwa sampah bisa bernilai dan berguna.
Untuk memperlancar upaya tersebut, Bank Sampah Mentari bahkan menyediakan sarana seperti kantong hitam dan karung bagi sekolah-sekolah yang membutuhkan. Bahkan, Gusti dan timnya siap mendampingi sekolah-sekolah dalam kegiatan pengelolaan lingkungan, memastikan bahwa setiap sekolah tidak hanya tahu cara mengelola sampah, tetapi benar-benar terlibat dan konsisten.
Para guru di SD Trinitas juga mengambil inisiatif untuk menyediakan sangkar plastik tempat siswa menampung plastik bekas yang nanti bisa dijual. Sedangkan sampah-sampah organik seperti daun dan rumput disemprot dengan cairan ecoenzyme yang sudah diencerkan untuk mempercepat proses penguraian.
Murid-murid di sekolah itu dengan bangga melihat perubahan kecil yang mereka lakukan, menyadari bahwa sampah yang mereka hasilkan bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna.
“Di SD Trinitas pengelolaan sampah menjadi lebih teratur dan anak-anak sudah terbiasa memilah-milah sampah sejak dini. Mereka paham betul bahwa sampah bukan hanya sesuatu yang dibuang begitu saja,” tutur Gusti dengan bangga.
Pada sekolah-sekolah lain, meski langkahnya baru dimulai, semangat itu sudah ada. Banyak sekolah saat ini sudah mulai mengumpulkan sampah anorganik untuk dijual kembali, menjadi langkah kecil namun penting dalam pendidikan lingkungan.
Perjuangan Bank Sampah Mentari yang dirintis pada penghujung tahun 2020 dan akan berulang tahun ke-4 pada 21 November mendatang, bukanlah perjuangan yang mudah, tetapi Gusti percaya bahwa generasi yang peduli lingkungan harus dibentuk sejak dini.
Bank Sampah Mentari terus melangkah, menjadikan sampah sebagai “peluang,” mengajarkan anak-anak bahwa tanggung jawab terhadap bumi adalah tanggung jawab kita bersama. Di tangan-tangan kecil ini, Gusti melihat harapan besar untuk masa depan yang lebih bersih dan lestari. (AGUSTINUS BOLE MALO/J)









