BORNEONEWS, Kotim - Warga Kecamatan Cempaga, Kotawaringin Timur berharap bisa mengonsumsi air dari PDAM Sampit. Mereka mengeluhkan kualitas air yang mereka konsumsi setiap hari, bisa membahayakan kesehatan. Selain warnanya kuning, air yang dikonsumsi dari sumur bor, dan air sungai itu, juga bau. Karena itu, mereka berharap PDAM Sampit bisa menjangkau Kecamatan Cempaga.

“Kami di sini masih mengandalkan sumur bor dan air sungai untuk konsumsi sehari-hari,” ungkap Wulan, seorang ibu rumah tangga di Desa Luwuk Bunter, Kecamatan Cempaga, Minggu (4/9/2016).

Menurut  Wulan, kualitas air yang kurang bagus termasuk di kantor Kecamatan, meski warnanya kuning tidak terlalu masalah bagi sebagian warga, tetapi baunya itu yang membuat warga hawatir. "Kami ini susah airnya saja, kuning lalu baunya amis. Berwudhu aja sampai tidak hendak berkumur,” ujarnya.

Meski masalah itu sudah berpuluh-puluh tahun dialami masyarakat Cempaga, mereka hanya bisa menikmati. Sebab, masalah itu sudah sering disampaikan ke pemerintah namun belum ada tanggapan. Tidak adanya tanggapan tersebut membuat warga putus asa untuk mengeluhkan atau melaporkan kepada pemerintah.

Sementara bak penampungan Milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Cempaga sudah ada dibangun. Namun belum ada air yang disalurkan ke rumah-rumah warga, padahal pipa besar sudah terpasang di pinggir-pinggir jalan.

“Kami tidak tahu kenapa airnya tidak sampai ke rumah warga,” ujar Meisy warga lainnya.

Dari laporan warga Cempaga, terdapat delapan desa di kecamatan itu yang kesulitan air bersih. Delapan desa itu yakni Luwuk Bunter, Sungai Paring, Cempaka Mulia Barat, Cempaka Mulia Timur, Jemaras, Luwuk Ranggan, Patai dan Rubung Buyung.

“Di sini susah airnya, padahal ada aja sungai, segala kantor UPTD PDAM nya, tapi kami tidak tau juga kenapa masih belum jalan air bersihnya,” katanya.

Warga di delapan desa yang kesulitan air bersih tersebut berharap pemerintah bisa mencarikan solusi agar masyarakat bisa menikmati air bersih dan layak konsumsi. (RAFIUDIN/N).