PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka RayaKepala Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, melaporkan bahwa volume arus barang yang menggunakan angkutan udara mengalami penurunan sebesar 6,99 persen. Penurunan ini mencakup volume barang bagasi dan bukan bagasi.

"Volume barang bagasi yang dimuat turun sebesar 14,53 persen dan yang dibongkar turun 10,34 persen. Sementara itu, volume barang bukan bagasi yang dimuat turun 6,47 persen dan yang dibongkar turun 2,06 persen," kata Agnes pada Minggu, 3 November 2024.

Agnes Widiastuti menjelaskan bahwa meskipun terjadi penurunan volume arus barang, frekuensi penerbangan pada September 2024 justru mengalami peningkatan signifikan sebesar 27,89 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.

"Pada September 2023, tercatat ada 961 penerbangan, sedangkan pada September 2024 jumlahnya meningkat menjadi 1.229 penerbangan," katanya.

Namun, jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, jumlah penumpang angkutan udara di hampir seluruh bandara di Kalimantan Tengah mengalami penurunan selama September 2024.

"Pengecualian terjadi di Bandara H Asan Sampit yang mencatat kenaikan jumlah penumpang sebesar 23,70 persen, dari 5.362 orang menjadi 6.633 orang," jelasnya.

Di sisi lain, jumlah penumpang di Bandara Iskandar Pangkalan Bun turun sebesar 8,61 persen, dari 44.795 orang menjadi 40.939 orang.

"Penurunan juga terjadi di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya sebesar 5,04 persen, dari 65.520 orang menjadi 62.221 orang. Bandara lainnya mencatat penurunan sebesar 0,44 persen, dari 4.585 orang menjadi 4.565 orang," bebernya.

Penumpang angkutan udara di Kalimantan Tengah terkonsentrasi di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, yang menyumbang 54,41 persen dari total penumpang. Bandara Iskandar Pangkalan Bun menyusul dengan 35,80 persen, diikuti oleh Bandara H. Asan Sampit dengan 5,80 persen, dan bandara lainnya dengan 3,99 persen.

Selain itu, total volume arus barang yang mencapai 1.968 ton terdistribusi melalui beberapa bandara di Kalimantan Tengah.

Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya menjadi yang terbesar dengan 74,19 persen dari total volume arus barang. Bandara Iskandar Pangkalan Bun menyumbang 19,77 persen, Bandara H. Asan Sampit 5,03 persen, dan bandara lainnya 1,01 persen.

Agnes Widiastuti menekankan pentingnya memahami dinamika ini untuk perencanaan dan pengambilan keputusan yang lebih baik di sektor transportasi udara.

"Data ini memberikan gambaran yang jelas tentang tren dan perubahan yang terjadi, sehingga kita dapat merespons dengan kebijakan yang tepat," ujarnya.

Dengan demikian, meskipun ada peningkatan frekuensi penerbangan, penurunan volume arus barang dan jumlah penumpang dibbeberapa bandara menunjukkan perlunya evaluasi lebih lanjut untuk meningkatkan efisiensi dan pelayanan di sektor transportasi udara di Kalimantan Tengah.(TESTI PRISCILLA/.R)