PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Konferensi Internasional ke-10 atau 10th International Conference on Climate Change tentang Perubahan Iklim berlangsung pada 6-7 November 2024 di Universitas Gifu, Jepang.

Profesor Rahmawaty dari Universitas Sumatera Utara menjadi salah satu pembicara dalam kelompok diskusi "Risiko Langsung dan Tidak Langsung terhadap Kesejahteraan" yang sangat relevan dengan tema besar konferensi tahun ini.

Prof Rahmawaty pada Kamis, 7 November 2024 pagi secara daring terhubung ke Jepang dan membahas topik "Strategi Manajemen untuk Pariwisata Alam dan Produk Hutan Non-Kayu Mendukung Perlindungan Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dalam Mitigasi Perubahan Iklim".

"Materi ini diharapkan memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dapat berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim," kata Prof Rahmawaty kepada Borneonews.

Risiko langsung terhadap kesejahteraan menurutnya mencakup dampak langsung dari perubahan iklim seperti bencana alam, peningkatan suhu, dan perubahan pola curah hujan yang dapat mempengaruhi kesehatan dan mata pencaharian masyarakat. Prof Rahmawaty menjelaskan bagaimana strategi manajemen yang tepat dapat mengurangi risiko-risiko ini.

"Risiko tidak langsung meliputi dampak jangka panjang seperti degradasi lingkungan dan hilangnya keanekaragaman hayati yang dapat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan," jelas Prof Rahmawaty.

Dalam presentasinya, Prof Rahmawaty menyoroti pentingnya perlindungan kawasan penyangga TNGL sebagai langkah penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung kesejahteraan masyarakat lokal.

Pariwisata alam dan produk hutan non-kayu, seperti madu hutan dan rotan, memiliki potensi besar untuk mendukung ekonomi lokal sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Prof Rahmawaty juga memaparkan berbagai strategi manajemen yang dapat diterapkan untuk memastikan bahwa kegiatan ini berkelanjutan dan tidak merusak ekosistem.

Kontribusi Prof Rahmawaty dalam konferensi ini diharapkan dapat menginspirasi para peserta untuk mengadopsi pendekatan serupa di wilayah mereka masing-masing.

Dengan demikian, konferensi ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga mendorong tindakan nyata dalam upaya mitigasi perubahan iklim secara global.(TESTI PRISCILLA/R)