BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada Konferensi Internasional ke-10 tentang Perubahan Iklim yang berlangsung pada 6-7 November 2024 di Universitas Gifu, Jepang, Prof Rahmawaty dari Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Sumatera Utara, Indonesia, akan menyampaikan materi penting.
Materi yang berjudul "Strategi Manajemen untuk Pariwisata Alam dan Produk Hutan Non-Kayu Mendukung Perlindungan Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dalam Mitigasi Perubahan Iklim" ini akan menjadi sorotan utama dalam sesi diskusi.
Materi seminar ini tidak dikerjakan sendiri oleh Prof Rahmawaty tetapi berkolaborasi dengan T Alief Aththorick dan R Hamdani Harahap dari Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, serta Abdul Rauf dari Universitas Sumatera Utara. Mereka juga bekerja sama dengan Mohd Hasmadi Ismail dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Universiti Putra Malaysia, Darul Ehsan, Malaysia, Takahiro Fujiwara dari Universitas Kyushu, Jepang, dan Peter Aning Tedong dari Universitas Malaya, Malaysia.
Taman Nasional Gunung Leuser atau TNGL adalah kawasan konservasi kritis dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, menyediakan layanan ekosistem penting termasuk regulasi iklim.
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Faktor Strategis Internal atau IFAS dan Faktor Strategis Eksternal atau EFAS serta menentukan strategi yang tepat dalam pengelolaan pariwisata alam dan produk hutan non-kayu untuk mendukung perlindungan kawasan penyangga TNGL dalam mitigasi perubahan iklim," kata Prof Rahmawaty menyampaikan materinya via daring.
Metode penelitian yang digunakan meliputi analisis SWOT dan diskusi kelompok terfokus atau FGD. Hasil penelitian menunjukkan nilai IFAS sebesar 0,82 dan EFAS sebesar 2,38. Skor akhir IFAS dan EFAS berdasarkan diagram SWOT berada di Kuadran I, yang menunjukkan bahwa kekuatan dan peluang tinggi, sementara kelemahan dan ancaman rendah dalam hal pengelolaan pariwisata alam dan produk hutan non-kayu untuk mendukung perlindungan TNGL dalam mitigasi perubahan iklim.
"Strategi manajemen yang diusulkan dalam penelitian ini mencakup pengembangan pariwisata alam yang berkelanjutan dan pemanfaatan produk hutan non-kayu seperti madu hutan dan rotan. Pendekatan ini tidak hanya mendukung ekonomi lokal tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan," terangnya lagi.
Kolaborasi internasional yang terlibat dalam penelitian ini menurut Prof Rahmawaty menunjukkan pentingnya kerja sama lintas negara dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Para peneliti dari berbagai universitas dan lembaga di Indonesia, Malaysia, dan Jepang bekerja sama untuk menemukan solusi yang efektif dan berkelanjutan.
"Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi pengelola kawasan konservasi lainnya dalam mengembangkan strategi manajemen yang efektif," katanya.
Dengan demikian, perlindungan kawasan penyangga TNGL dapat lebih optimal dan memberikan kontribusi signifikan dalam mitigasi perubahan iklim.
"Konferensi ini menjadi platform penting bagi para ahli untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta mendorong tindakan nyata dalam upaya mitigasi perubahan iklim secara global. Partisipasi aktif dari berbagai pihak diharapkan dapat mempercepat tercapainya tujuan-tujuan konservasi dan keberlanjutan lingkungan," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/H)









