BORNEONEWS, Pangkalan Bun-Pendidikan adalah tangga bagi individu menuju masa depan yang baik, mengantarkan kemajuan daerah dan kekuatan bangsa. Tetapi, faktanya masih banyak anak yang belum mendapatkan hak Pendidikan.
Bagaimanakah masa depan mereka? Bagaimana masa depan bangsa, jika generasi penerusnya tidak dibekali pendidikan yang baik?
Kegelisahan itu yang memanggil jiwa Mia Cisadani, seorang aktivis Pendidikan yang rela mengajar puluhan anak putus sekolah di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) tanpa imbalan sepeser pun.
Perempuan asal Jawa Tengah ini, sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga sekaligus berwirausaha. Meskipun tidak memiliki latar ilmu yang mumpuni dalam keguruan, tidak menyurutkan semangatnya dan berdedikasi dalam bidang pendidikan.
Semuanya berawal dari keprihatinannya saat ia melihat puluhan anak yang putus sekolah, mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA di Kobar. Banyak diantara mereka yang terjebak dalam kenakalan remaja, menikah usia anak, serta bekerja serabutan karena himpitan ekonomi.
“Data anak putus sekolah biasanya saya dapatkan dari teman-teman yang mempunyai kepedulian terhadap pendidikan juga. Setiap bertemu anak-anak putus sekolah, mereka langsung menginformasikan ke saya. Sampai saat ini data yang saya punya menunjukkan sekitar 70 anak putus sekolah yang ada di Kabupaten Kotawaringin Barat," ujarnya, Jumat, 8 November 2024.
Mia menjelaskan, dari puluhan anak tersebut, masih banyak lagi di Desa/Keluarahan lainnya yang belum terdata. Saat ini, dirinya masih menelusuri di daerah seputar Kota Pangkalan Bun mulai dari Kelurahan Baru, Kelurahan Mendawai, Desa Pasir Panjang, Natai Baru dan Natai Raya.
Apa yang dilakukan?
Selama menelusuri di setiap daerah, anak-anak putus sekolah yang ditemui Mia Cisadani berupaya mendorong mereka termasuk orang tua dalam melanjutkan menempuh pendidikan sampai tingkat SMA/SMK Sederajat.
"Saya berusaha memotivasi anak tersebut untuk mau sekolah lagi dan mengedukasi orang tua akan pentingnya pendidikan. Lalu, membantu merekomendasikan kembali ke sekolah asal, atau pendidikan kesetaraan," ujarnya.
Seperti apa yang Mia lakukan terhadap beberapa anak-anak di Kelurahan Baru. Dia bersama relawan lainnya meluangkan waktu mengajarkan mereka membaca, menulis, menghitung bahkan menemani anak-anak tersebut bermain sambil mengobrol santai, menyemangati dan menyisipkan nilai kehidupan.
Kenapa Mia melakukan hal tersebut?
Melihat problematika pendidikan di Indonesia khususnya di Kabupaten Kotawaringin Barat, Bumi Marunting Batu Aji, tentu Mia tidak bisa hanya tinggal diam.
Ia mengungkapkan, bahwa memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mendapatkan pendidikan adalah upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah. Jika tiap daerah melakukan hal yang sama, maka negara Indonesia akan menjadi negara yang besar.
Sebaliknya, jika tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik, saat memasuki usia produktif, mereka tidak akan mampu bersaing untuk memenuhi kebutuhan permintaan tenaga kerja. Sehingga angka pengangguran dan kriminalitas pun akan meningkat.
"Kebanyakan berasal dari keluarga pra sejahtera dan problematik. Saya khawatir mereka tidak mampu mengatasi permasalahan hidup yang berat dengan cara yang bijak. Jangan sampai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka mengambil jalan pintas," ungkapnya.
Ia secara sukarela merangkul anak-anak yang pendidikannya sempat terhenti di tengah jalan, untuk kembali melanjutkan sekolah lagi.
"Sejauh ini yang saya lakukan masih bersifat mandiri. Belum ada dukungan dari dinas terkait. Saya lakukan dulu apa yang bisa saya kerjakan," katanya.
Kendala yang dihadapi?
Kemudian, ia menyampaikan kendala yang dihadapi di lapangan. Mulai dari penolakan dari orang tua, anak sudah tidak mau lagi bersekolah, bahkan ancaman dari pihak keluarga yang tak ingin anaknya didekati.
Banyak orang tua yang tidak menyadari pentingnya pendidikan. Di desa-desa, ketika anak perempuan sudah memasuki masa pubertas, mereka tidak diizinkan sekolah lagi. Bahkan anak laki-laki disuruh berhenti sekolah untuk bekerja serabutan.
"Orang tua sering kali tidak menyadari pentingnya pendidikan dalam jangka panjang. Kadang ada juga orang tua yang memilih anaknya untuk membantu dia mencari nafkah, jadi pikirnya mereka lebih baik bekerja dari pada melanjutkan sekolah," tutur Mia.
Harapan Mia Cisadani
Mia menyampaikan, hasil yang diperoleh dari proses yang sudah berjalan sekitar 5 tahun berjalan, dia menemukan banyak sekali anak-anak yang ternyata memiliki talenta.
Selain mengasah kemampuan akademik, dia menggali bakat yang dimiliki anak-anak dan mengarahkan untuk menekuni minat mereka. Misalkan terdapat anak yang berbakat menggambar, maka diarahkan menjadi illustrator dan sebagainya.
“Karena setiap anak adalah istimewa. Kita harus jeli menemukan bakatnya. Dan memolesnya supaya lebih berkilau,” tambahnya.
Lantas, ia berharap adanya dukungan dari sektor terkait. "Mungkin ada suatu sistem penjaringan anak-anak putus sekolah di Kabupaten Kotawaringin Barat, dari situ kita kaji lalu bisa kita rumuskan langkah konkrit untuk menyelesaikan masalah tersebut," harap Mia.
"Diharapkan juga dari kita semua, berbagai stakeholder, dan ini menjadi PR kita bersama untuk meningkatkan kepedulian kita terhadap sesame, siapa tahu di sekitar kita ada anak yang putus sekolah juga. Yuk, kita sama-sama menyelamatkan pendidikan anak-anak dan masa depan Indonesia," ujarnya demikian. (NURITA/R)









