PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dengan tema "Inovasi Multisektor dan Kolaborasi Global: Strategi Pembangunan Berkelanjutan untuk Masa Depan yang Resilient" telah sukses diselenggarakan. Acara ini menampilkan berbagai presentasi dari akademisi terkemuka, termasuk materi berjudul "Partisipasi Kelompok Komunitas Bambu Lestari dalam Pengelolaan Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL)" yang disusun oleh tim peneliti lintas negara.

Materi ini dipresentasikan oleh Prof Rahmawaty mewakili rekanan lainnya yakni Prof Abdul Rauf, R Hamdani Harahap, T Alief Aththorick, Mohd Hasmadi Ismail, Peter Aning Tedong, Takahiro Fujiwara, Fitra Syawal Harahap, Masrizal Saraan, Ridahati Rambey, Cindy Novia Lufti, dan Seca Gandaseca. Mereka berasal dari berbagai institusi, termasuk Universitas Sumatera Utara, Universiti Putra Malaysia, Kyushu University, dan Malaya University.

"Penelitian ini menyoroti pentingnya partisipasi komunitas lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan di sekitar TNGL," kata Prof Rahmawaty kepada Borneonews pada Jumat, 8 November 2024.

Dalam presentasinya, tim peneliti menjelaskan bagaimana Kelompok Komunitas Bambu Lestari berperan aktif dalam pengelolaan kawasan penyangga TNGL. Mereka mengembangkan berbagai inovasi dalam pemanfaatan bambu yang tidak hanya berkontribusi pada konservasi lingkungan tetapi juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat.

"Kolaborasi antara akademisi dan komunitas lokal ini menjadi contoh nyata dari strategi pembangunan berkelanjutan yang efektif," tuturnya.

Selain itu, penelitian ini juga menekankan pentingnya kolaborasi global dalam menghadapi tantangan lingkungan. Dengan melibatkan berbagai pihak dari berbagai negara, penelitian ini menunjukkan bahwa solusi untuk masalah lingkungan dapat ditemukan melalui kerja sama internasional. Hal ini sejalan dengan tema seminar yang menekankan inovasi multisektor dan kolaborasi global.

Para peserta seminar sangat antusias dengan presentasi ini, mengingat relevansi topik dengan isu-isu lingkungan yang sedang dihadapi saat ini. Mereka berharap hasil penelitian ini dapat diimplementasikan di berbagai kawasan konservasi lainnya di Indonesia dan negara-negara lain.

"Seminar ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan tetapi juga memperkuat jaringan kerja sama antara akademisi, praktisi, dan komunitas lokal. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta strategi pembangunan berkelanjutan yang lebih resilient dan berkelanjutan untuk masa depan," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/j)