PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pengelolaan kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Leuser atau TNGL merupakan salah satu strategi penting dalam menjaga kelestarian ekosistem. Kawasan penyangga tidak hanya berfungsi sebagai pelindung terhadap tekanan eksternal yang dapat mengganggu keanekaragaman hayati di dalam TNGL, tetapi juga sebagai ruang bagi masyarakat lokal untuk memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Hal ini disampaikan dalam Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dengan tema "Inovasi Multisektor dan Kolaborasi Global: Strategi Pembangunan Berkelanjutan untuk Masa Depan yang Resilient" pada 7-8 November 2024. Acara ini menampilkan berbagai presentasi dari akademisi terkemuka, termasuk materi berjudul "Partisipasi Kelompok Komunitas Bambu Lestari dalam Pengelolaan Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL)" yang disusun oleh tim peneliti lintas negara.

Materi ini dipresentasikan oleh Prof Rahmawaty, yang mewakili rekan-rekannya yaitu Prof Abdul Rauf, R. Hamdani Harahap, T Alief Aththorick, Mohd Hasmadi Ismail, Peter Aning Tedong, Takahiro Fujiwara, Fitra Syawal Harahap, Masrizal Saraan, Ridahati Rambey, Cindy Novia Lufti, dan Seca Gandaseca. Mereka berasal dari berbagai institusi, termasuk Universitas Sumatera Utara, Universiti Putra Malaysia, Kyushu University, dan Malaya University.

"Kelompok Komunitas Bambu Lestari atau KBL adalah salah satu contoh inisiatif lokal yang terlibat dalam pengelolaan kawasan penyangga TNGL," kata Prof Rahmawaty kepada Borneonews.

Kelompok ini berfokus pada konservasi dan pemanfaatan bambu sebagai sumber daya alam yang berkelanjutan. Melalui berbagai inovasi, KBL berhasil meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan.

--page

Dalam presentasinya, tim peneliti menekankan pentingnya partisipasi komunitas lokal dalam upaya konservasi. Mereka menunjukkan bahwa kolaborasi antara akademisi dan masyarakat lokal dapat menghasilkan solusi yang efektif dan berkelanjutan untuk masalah lingkungan. Hal ini sejalan dengan tema seminar yang menekankan inovasi multisektor dan kolaborasi global.

"Seminar ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan tetapi juga memperkuat jaringan kerja sama antara akademisi, praktisi, dan komunitas lokal. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta strategi pembangunan berkelanjutan yang lebih resilient dan berkelanjutan untuk masa depan," katanya. (TESTI PRISCILLA/Y)