BORNEONEWS, Nanga Bulik - Tradisi Tari Babukung seringkali hanya dikenal sebatas pertunjukan seni produk asli masyarakat adat Dayak Tomun warisan nenek moyang yang ada di Bumi Kalimantan. Namun, siapa sangka jika ditinjau dari segi historisnya Tadisi Babukung ternyata memiliki muatan filosofis yang sangat tinggi utamanya dalam pergumulan masyarakat adat Dayak dengan kepercayaan Kaharingan terdahulu.
Disebut-sebut, setidaknya ada dua makna yang terkadung dalam kegiatan ritual Tari Babukung sebagai sebuah tradisi masyarakat adat dayak dengen kepercayaan kaharingan terdahulu. Yakni, saling membantu (bersedekah kepada keluarga korban yang ditinggal mati), dan makna berbagi yang dituangkan dalam bentuk menghibur orang yang bersedih ditinggal keluarga yang meninggal dengan tarian-tarian lucu.
Hal tersebut seperti dituturkan Ketua Panitia Festival Babukung 2016, FX. Perwiragato, kepada Borneonews, Senin (5/9/2016).
Membantu atau bersedekah, sambung Gato, karena setiap bukung (atau penari topeng) yang menghibur keluarga orang yang meninggal saat itu pasti turut memberikan bantuan, baik berupa makanan (hasil alam), minuman (tuak dsb), ataupun uang. Sehingga dapat pula diartikan sebagai tindakan bergotongroyong untuk mengurangi beban keluarga yang ditinggal mati.
"Makna kedua yakni menghibur. Dengan keunikan berbagai topeng, si penari berupaya keras untuk menampilkan atraksi se lucu dan semenarik mungkin, mulai dari balutan kelucuan rupa, bentuk, corak topeng maupun gerakan tarinya, sehingga si keluarga yang ditinggal mati tidak lagi bersedih," bebernya.
Artinya, tetangga atau para pelayat yang menyamar menjadi penari bukung turut bertanggungjawab atas perasaan sedih keluarga yang ditinggal mati salahsatu anggota keluarganya. Sehingga, tak heran jika tradisi seni babukung biasa disebut sebagai tradisi penghantar kematian.
Lebih dari itu, Gato juga membeberkan, sebagaiman historisnya, praktek tradisi tari babukung di jaman dahulu biasa digelar disaat ada orang yang meninggal, tepatnya saat disemayamkan (sebelum mayat dikuburkan). Adapun lama pelaksanaan tari babukung sendiri pasti diseseuaikan dari sisi kemampuan ekonomi keluarga dan juga kedudukan/tahta dari orang yang meninggal tersebut.
"Umumnya, jika orang tersebut terpandang dan memiliki kemampuan ekonomi yang mumpuni, pelaksanaan tari babukung akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Sedangkan hitungannya, mulai dari 3 hari, 7 hari, 14 hari, 31 hari dan kelipatannya," katanya.
Artinya, sebut dia, Jika Tewah itu sebagai upacara setelah mayat itu dikubur, kalau tari babukung sebagai upacara saat mayat disemaamkan (sebelum mayat itu dikubur).
Namun demikian, adapun yang dilesatarikan saat ini dengan bentuk festival atau semacamnya adalah seni pertunjukkan. Sehingga murni mengambil intisari dari sisi seni dan budayanya, tidak pada sisi kesakralan pelaksanaan tradisinya. Sehingga, yang ditonjolkan salahsatunya adalah seni ukur, koreografo, keunikan kostum, iringan musik dan lain sebagainya. (HENDI NURFALAH/m)








