PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dari hobi memancing hingga kekerasan yang mengerikan, kisah tragis Ariska Ayuri (23) mengungkapkan bagaimana sebuah permintaan sederhana justru berujung pada derita panjang. Suaminya, SR (32), yang lebih memilih mancing ketimbang bekerja, memicu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menyebabkan Ariska keguguran dan patah jari. Kasus ini membuka tabir pahit mengenai realitas KDRT yang tak jarang dimulai dari konflik sepele.

Ariska Ayuri, seorang karyawati yang kini terbaring dengan patah tulang dan kesedihan mendalam, mengungkapkan pengalaman pahitnya dengan suami yang berubah menjadi pelaku kekerasan. Pada pagi 17 Oktober 2024, di kediaman mereka, Ariska menjadi korban kekerasan fisik yang mengakibatkan patah tulang dan keguguran. Semua bermula dari permintaan sederhana untuk suaminya bekerja, namun yang terjadi justru kekerasan brutal.

"Suami saya, SR, lebih memilih mancing daripada bekerja. Saat saya menyuruhnya untuk fokus pada pekerjaan, dia malah marah besar," ujar Ariska. Kejadian tersebut terjadi setelah SR menanggapi permintaannya dengan melemparkannya ke lemari dan menarik serta memelintir tangannya hingga menyebabkan patah jari.

Namun, itu bukan kali pertama Ariska mengalami kekerasan dari SR. Sebelumnya, pada Juli 2024, Ariska juga menjadi korban kekerasan fisik hingga menyebabkan keguguran janin berusia empat bulan. Kejadian itu membuat Ariska semakin kecewa dengan sikap suaminya, yang tidak hanya mengabaikan nafkah lahir batin, tetapi juga menunjukkan perilaku kekerasan.

"Saat itu, dia menendang perut saya hingga akhirnya keguguran. Ini bukan hanya soal fisik, tapi tentang penghormatan dalam rumah tangga," ungkapnya.

Setelah kejadian pada 17 Oktober, Ariska tidak tinggal diam. Ia segera melaporkan peristiwa tersebut ke Polresta Palangka Raya pada 18 Oktober 2024. Ia menegaskan tidak ingin ada mediasi dan ingin suaminya dihukum setimpal atas perbuatannya.

Kasatreskrim Polresta Palangka Raya, AKP Rian Permana, mengonfirmasi bahwa pihak kepolisian telah menerima laporan dari korban dan telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi, korban, serta terlapor. Polisi berjanji untuk menindaklanjuti kasus ini sesuai dengan hukum yang berlaku.

Kisah Ariska mengingatkan kita betapa pentingnya menghargai hubungan rumah tangga dan bagaimana masalah sepele seperti perbedaan hobi bisa merusak hidup seseorang. Kejadian ini menjadi bukti bahwa kekerasan dalam rumah tangga sering kali dimulai dari ketidakpedulian terhadap pasangan dan komunikasi yang buruk. (PATHUR)